BAHAR POS – Dua rumah mewah berdampingan di kawasan elit Kota Wisata, Gunung Putri, Bogor, dipastikan bakal langsung mencuri perhatian siapapun yang melihat. Terlebih jika tahu sosok pemiliknya yang kini tengah terjerat kasus berat.
Dua rumah tersebut milik Dwi Hartono, sosok yang disebut-sebut sebagai pengusaha berbagai bidang. Kepemilikan sepasang properti tersebut seakan menjadi bukti kesuksesan pria tersebut di dunia bisnis.
Kedua unit milik Dwi terletak di jalan utama dalam Kluster San Francisco. Masing-masing berdiri di atas lahan seluas 495 meter persegi, sehingga total hampir 1.000 meter persegi.
Menilik informasi dari laman resmi pertanahan (bhumi.atrbpn.go.id), kedua tanah berstatus hak milik. Sedangkan estimasi harga tanah di kawasan tersebut berada di rentang Rp 5 juta–10 juta per meter persegi.
Sedikit bermatematika, nilai tanahnya saja bisa mencapai setidak-tidaknya Rp5 miliar. Belum lagi jika ditambah dengan bangunan megah di atasnya.
Dalam sebuah video di kanal YouTube-nya, Klan Hartono, Dwi menceritakan jika dirinya sempat jatuh bangkrut dan terlilis utang miliaran. Namun ia mampu bangkit, sampai akhirnya bisa membeli rumah seharga Rp5 miliar.
Tidak dijelaskan rumah mana yang dibeli Dwi kala itu. Apakah dua hunian mewah di Kluster San Fransisco, Kompleks Kota Wisata ini?
Rumah Sekaligus Kantor
Dari luar, hunian ini benar-benar menghadirkan kesan megah dan mapan. Kedua rumah dicat putih-hitam berpadu dengan genteng kecokelatan, ditambah pagar emas yang berkilau di bawah sinar matahari. Taman depan dihiasi tanaman hias, lengkap dengan pohon palem merah yang menjulang.
Detail rumah juga memperlihatkan jejak aktivitas pemiliknya. Unit bernomor Q1/8 menampilkan logo “GURUKU” di balkon, yang mengingatkan pada aplikasi bimbingan belajar online di bawah naungan PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia milik Dwi.
Di garasi, terdapat tulisan “WD Fashion”, menunjukkan kiprah usahanya di bidang lain. WD besar kemungkinan diambil dari nama belakang istri Dwi, yakni Wulandari.
Sementara rumah bernomor Q1/9 memiliki carport berkanopi dan lima pilar besar yang menjulang dari lantai dasar ke lantai dua—sebuah gaya arsitektur yang menambah wibawa bangunan. Tak seperti rumah di sebelahnya, tak ada logo maupun penanda apapun di sini.
Namun, keindahan hunian mewah tersebut kini terasa ironis. Di balik megahnya fasad, pemilik rumah justru tengah menghadapi sorotan publik.
Dwi Hartono diduga menjadi otak kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Mohamad Ilham Pradipta (37). Namanya kian ramai dibicarakan, tak hanya karena kasus, tapi juga karena gaya hidup dan jejak sosialnya.
Polda Metro Jaya telah menangkap pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, tersebut pada 23 Agustus lalu. Ketika itu Dwi berada dalam satu mobil bersama dua rekannya, YJ dan AA, yang tengah melaju di Jl. Solo-Jogja.
Crazy Rich Rimbo Bujang
Di kampung halamannya, Desa Mekar Kencana, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi, Dwi sebelumnya dikenal sebagai motivator dan pengusaha muda yang dermawan. Berbagai aksinya membuat pria ini dijuluki Crazy Rich Rimbo Bujang.
Warga setempat masih ingat bagaimana Dwi pernah membantu menyediakan ambulans untuk desa. Juga momen ketika ia pulang kampung dengan helikopter yang tentu saja membuat heboh.
Dwi juga pernah mendatangkan penyanyi dangdut top Via Vallen sebagai hiburan di acara khitanan puteranya pada 2018 lalu. Itu adalah masa-masa di mana Via tengah naik daun, sehingga bisa dipastikan honornya juga tengah tinggi-tingginya.
Terbaru, ia sempat mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati Pemalang ke DPC Partai Kebangkitan Bangsa setempat. Namun namanya tak lolos saringan internal partai yang lebih memilih mengusung pesohor Vicky Prasetyo.
Kini, citra itu berbalik. Selain berurusan dengan proses hukum, Dwi yang juga mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada harus menerima sanksi akademik berupa penonaktifan sementara.
Rumah megahnya di Bogor lebih sering terlihat sepi dan tertutup rapat. Hunian yang dulu tampak sebagai simbol keberhasilan, kini menjadi penanda kontras: kemegahan yang berdiri tegak, tapi pemiliknya tengah tersandung kasus berat.