Festival Kebudayaan Desa Pulau Aro Resmi Dibuka, Upaya Merawat Warisan Budaya Leluhur dan Identitas Tradisi

BAHAR POS – Festival Kebudayaan Desa Pulau Aro kembali hadir. Kegiatan yang digelar sebagai upaya lokal untuk melestarikan adat istiadat dan memperkuat rasa identitas budaya masyarakat tersebut dibuka secara resmi pada Kamis (11/9/2025) malam WIB.

Peresmian festival kebudayaan di Desa Pulau Aro, Kecamatan Tabir Ulu, Merangin tersebut dibuka oleh Staf Ahli Bupati Bidang Keuangan, Pengembangan Ekonomi dan Pembangunan Irsadi, mewakili Bupati Merangin H. M. Syukur.

Dalam kata sambutannya, Irsadi mengatakan bahwa festival ini bermaksud agar generasi muda bisa lebih mengenal dan mencintai warisan budaya leluhur. Potensi seni, budaya dan produk lokal dapat dipromosikan lebih luas, bahkan ke tingkat yang lebih tinggi.

‘”Pemerintahan Desa Pulau Aro juga memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian nilai-nilai budaya, tradisi dan kearifan lokal. Ini sangat penting, karena budaya adalah jati diri dan akar dari pembangunan karakter masyarakat,” tambah Irsadi.

Ia melanjutkan, Festival Kebudayaan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Pemerintahan Desa Pulau Aro tersebut merupakan bukti nyata bahwa Desa Pulau Aro tidak hanya bergerak dalam pembangunan fisik.

Selain itu, Irsadi mengatakan festival tersebut dapat menjadi media memupuk rasa kebersamaan di antara warga. Ia menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif masyarakat dalam penyelenggaraan.

“Saya mengapresiasi partisipasi aktif seluruh warga dalam menyukseskan acara ini,” puji Irsadi.

Menghidupkan Tradisi Leluhur

Desa Pulau Aro sejak lama dikenal dengan sejarah tradisi budaya, terutama lumbung padi sebagai warisan cagar budaya, serta berbagai kesenian seperti Bekuau dan tradisi Turun Ba Umo, yang beberapa tahun sempat terabaikan.

Berdasarkan hasil penelitian Universitas Jambi (2025), tradisi Turun Ba Umo sempat tidak dilaksanakan sejak 2018 hingga 2022 karena kepala desa pada masa itu menganggap kegiatan tersebut sebagai tindakan “musyrik” yang bertentangan dengan keyakinan Islam.

Setelah kepemimpinan berganti, Pemerintah Desa Pulau Aro dan lembaga adat kemudian bergandeng tangan untuk menghidupkan kembali tradisi Turun Ba Umo sebagai bagian dari identitas lokal.

Selain menghidupkan kembali tradisi Turun Ba Umo, festival kebudayaan tahun ini hadir di tengah kebutuhan masyarakat Desa Pulau Aro untuk melestarikan cagar budaya lumbung padi.

Tersemat juga harapan besar agar event seperti ini dapat melestarikan budaya Bekuau—seni musik tradisional setempat—yang nyaris punah. Pasalnya, menurut dokumentasi kesenian lokal, pelaku kesenian Bekuau hanya tinggal satu orang dan hingga kini belum ada calon penerus.

Di luar itu, warga juga memamerkan berbagai produk lokal sebagai daya tarik wisata budaya. Adanya festival ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi kreatif desa dan menarik perhatian warga luar desa Pulau Aro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *