Revalidasi Geopark Merangin: Dua Hari Pertama Tim Evaluator UNESCO di Bumi Tali Undang Tambang Teliti

Dipublikasikan pada: Rabu, 12 Agustus 2026
Evaluator UNESCO meninjau tepian Sungai Batang Merangin sebagai bagian dari revalidasi Geopark Merangin, Jambi.
Lensa Jambi
Lensa Jambi Akun Resmi

Akun resmi untuk informasi dan pengumuman segala hal terkait Lensa Jambi, serta publikasi laporan dan tulisan yang dibuat oleh tim internal. Artikel/liputan yang disponsori, jika ada, juga diterbitkan dengan akun ini. Email: lensajambi@lensajambi.com

LANGIT siang itu cerah di atas Bandara Muaro Bungo, Senin (10/8/2026), saat pesawat yang membawa dua tokoh penting perlahan mendarat sekitar pukul 13.20 WIB. Prof. Dr. Yongmun Jeon dari Jeju Island UNESCO Global Geopark, Korea Selatan, dan Mr. Nicolas Klee dari Monts D’ardèche UNESCO Global Geopark, Prancis, menginjakkan kaki di Bumi Tali Undang Tambang Teliti.

Di ujung landasan, rombongan penyambut telah bersiap. Staf Ahli III Pemkab Merangin, Hendri Widodo, yang mewakili Bupati M. Syukur, tampak didampingi General Manager Geopark Merangin, Dr. Agus Zainudin, dan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Suherman. Senyum dan sambutan hangat langsung terpancar saat kedua evaluator turun dari pesawat.

“Pemerintah Kabupaten Merangin siap memfasilitasi dan mendukung penuh seluruh rangkaian proses revalidasi ini. Kami berharap potensi geologi, alam, dan budaya Merangin dapat terus diakui secara internasional,” ujar Hendri dengan penuh keyakinan .

Baca juga

Usai perjalanan darat menuju Bangko, rasa lelah seketika terbayar oleh keramahan yang mereka temui di pusat kota. Mr. Jeon Yongmun, yang menyempatkan diri berjalan-jalan sore, mengaku sangat terkesan. Dalam acara gala dinner penyambutan di Rumah Dinas Bupati Merangin malam itu, ia berbagi pengalaman dengan penuh semangat.

“Sebelum makan malam, saya sempat berjalan-jalan di pusat kota. Semua warga lokal tersenyum dan menyapa. Ini memberikan kesan yang sangat baik bagi saya,” ujarnya melalui penerjemah, Lukman dari Balai Bahasa Provinsi Jambi.

Suasana gala dinner terasa hangat. Meja-meja panjang ditata rapi di ruang utama rumah dinas, dihiasi ornamen khas Merangin yang menggambarkan kekayaan alam dan budaya setempat.

Para undangan dari unsur pemerintah daerah, akademisi, dan perangkat geopark duduk berdampingan dengan dua tamu kehormatan. Lampu-lampu kristal di atas kepala memantulkan cahaya yang lembut, menambah kemeriahan malam yang penuh keakraban itu.

Di sela-sela hidangan, Jeon Yongmun, dengan senyum khasnya, menegaskan posisi mereka bukanlah sebagai inspektur yang mencari-cari kesalahan.

“Kami hadir di sini bukan sebagai inspektur, melainkan sebagai teman. Kami tidak datang untuk memeriksa, tetapi untuk berkolaborasi,” katanya. Ia menambahkan, proses ini adalah ruang untuk belajar dan pembenahan bersama.

Baca juga

“Mulai besok kita akan turun ke lapangan bersama-sama, berdiskusi, dan mencari solusi terbaik untuk pengembangan Geopark Merangin. Kami siap menjadi motivator agar potensi yang ada bisa berkembang lebih maksimal,” katanya lagi .

Pernyataan tersebut disambut hangat oleh Bupati Merangin, M. Syukur yang didampingi istri, Hj. Lavita Syukur.

“Geopark Merangin bukan sekadar warisan batu atau status di mata internasional, melainkan sarana pemberdayaan ekonomi lokal dan UMKM yang berkelanjutan,” jelas Bupati. Ia juga memaparkan capaian pengelolaan Geopark Merangin tiga tahun terakhir, termasuk penghargaan Best Practice UGGp 2023 dan penghargaan dari Kementerian ESDM RI pada 2025.

Dalam jamuan malam itu, Bupati dengan bangga mengenakan Batik Geopark motif Stalaktit Goa Tiangko, berpadu serasi dengan sang istri. Ia lalu menghadiahkan syal Batik Geopark bermotif fosil kerang kepada kedua tamu, karya perajin lokal Sri Rajo.

“Batik motif fosil kerang dan stalaktit ini bukan hanya kain, tetapi bagian dari jejak geologi Merangin yang wajib kita jaga kelestariannya. Pemerintah ingin tim evaluator tidak hanya melihat warisan bumi kita di lapangan, tetapi juga merasakan kebanggaan masyarakat yang tertuang dalam kerajinan tradisional,” ujar Bupati.

Tak ketinggalan, cita rasa lokal turut disajikan. Hidangan utama yang disuguhkan mencakup Tempoyak Buluh dan Gulai Pakis Tekuyung, serta sajian pencuci mulut Gelamai Perentak dan Penyaram.

Baca juga

“Menu seperti Tempoyak Buluh dan Gulai Pakis Tekuyung ini adalah warisan resep turun-temurun. Melalui sajian ini, kita ingin menunjukkan bahwa kelestarian alam Merangin berbanding lurus dengan budaya dan kuliner tradisional yang terus hidup di tengah masyarakat,” jelas Bupati.

Di tengah perbincangan lintas bahasa, sosok Lavita Syukur turut menyita perhatian. Dengan fasih, ia berkomunikasi langsung dalam bahasa Inggris bersama kedua evaluator, juga membantu menerjemahkan pembicaraan sang suami. Ia tampak luwes berdiskusi langsung dengan para pakar internasional, membangun perbincangan hangat bersama Mr. Nicolas Klee dan Prof. Dr. Yongmun Jeon.

Kemampuan ini bukan kali pertama ditunjukkan Lavita Syukur, sebelumnya ia telah menggunakan bahasa Inggris saat menyambut ilmuwan internasional pada November 2025. Kepercayaan dirinya ini disebut menjadi salah satu dorongan bagi program kursus bahasa Inggris gratis di setiap kecamatan yang dicanangkan Bupati untuk generasi muda Merangin.

Keesokan harinya, Selasa (11/8), rombongan memulai penjelajahan lapangan. Pagi itu, mereka menyusuri Goa Tiangko di Desa Tiangko, Kecamatan Sungai Manau. Ditemani Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Yanto Manurung, Kepala BKSDA Wilayah I Jambi Ikawa, serta GM Geopark Merangin Agus Zainudin, Yongmun Jeon dan Nicolas Klee terpukau oleh keindahan stalaktit dan stalakmit yang terbentuk alamiah, serta tebing batu karst yang berpadu dengan ladang dan saluran irigasi sawah warga.

Namun, selain memuji, Yongmun Jeon memberikan masukan konstruktif. “Geopark tidak hanya penting untuk geologi dan penelitian, tetapi juga untuk pelajar dan masyarakat. Sebaiknya ada papan informasi yang menjelaskan sejarah goa dan proses terciptanya stalaktit,” sarannya.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri Sungai Batang Merangin dari Air Batu menuju Mengkarang menggunakan perahu karet. Di sinilah kekayaan purba Merangin terbentang nyata. Fosil batang pohon membatu (Araucarioxylon) dan fosil pakis purba (Pecopteris) yang tertanam tegak di tebing sungai, serta fosil fauna laut seperti kerang dan brakiopoda di batuan purba Formasi Mengkarang, menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Baca juga

Melihat potensi ini, Yongmun Jeon mendorong pemerintah untuk mengemasnya dalam buku cerita bergambar untuk anak-anak. “Kekayaan alam ini harus dilestarikan. Sayangnya tak banyak informasi yang tersedia. Pemerintah bisa membuat cergam dengan bahasa mudah, agar anak-anak paham proses terbentuknya geologi ini,” usulnya.

Nicolas Klee menambahkan, “Kekayaan ini jangan hanya jadi obyek wisata, tapi laboratorium ilmu pengetahuan. Pemerintah Kabupaten harus mengambil langkah edukatif.”

Di penghujung hari, kunjungan berlanjut ke Rumah Batik Srikandi di Desa Markeh, Kecamatan Renah Pembarap. Suasana menjadi sangat ceria. Yongmun Jeon dan Nicolas Klee tak hanya melihat koleksi, tetapi diajak mempraktikkan pembuatan batik ecoprint.

Momen paling meriah terjadi saat keduanya diminta menginjak kain agar pigmen daun menempel. Daripada sekadar menginjak, mereka malah menari-nari di atas kain, memicu tawa seluruh pengrajin yang hadir.

“Baru di sini saya melihat batik dibuat dengan cara dikukus,” puji Jeon.

Melihat antusiasme ini, Nicolas Klee melontarkan gagasan menarik. “Setahu saya, geopark di Thailand punya kegiatan serupa dan berhasil menarik wisatawan. Bagaimana jika di sini melakukan pertukaran budaya atau studi banding ke geopark di Thailand?” usulnya.

Baca juga

Gagasan itu disambut positif oleh pengelola Batik Srikandi, Meri Diastuti. “Saran itu akan menjadi catatan kami dan mudah-mudahan bisa difasilitasi oleh Badan Pengelola Geopark Merangin,” pungkasnya.

Evaluator Geopark Merangin mengunjungi Batik Srikandi Desa Markeh

Revalidasi Empat Tahunan

Kedatangan kedua pakar UNESCO ke Merangin bukanlah kunjungan biasa. Ini adalah momen penentu dalam proses revalidasi Geopark Merangin Jambi yang dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026.

Status UNESCO Global Geopark yang diraih pada 24 Mei 2023 bukanlah pencapaian akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar. Setiap empat tahun sekali, setiap geopark yang menyandang status UNESCO wajib menjalani proses revalidasi.

Hasil revalidasi terbagi dalam tiga kategori: Green Card jika memenuhi standar, Yellow Card jika terjadi penurunan kualitas dengan waktu perbaikan dua tahun, atau Red Card yang berarti status geopark dicabut. Dan kedatangan evaluator dunia utusan UNESCO ini merupakan penentu bagi Merangin Jambi dalam mempertaruhkan pengakuannya.

Mengapa pengakuan UNESCO begitu penting bagi Merangin? Jawabannya terletak pada kekayaan luar biasa yang tersimpan di bumi ini.

Geopark Merangin Jambi menyimpan fosil flora Permian berusia 252 hingga 299 juta tahun yang dikenal sebagai “The Best and Most Complete Fossil Flora from the Early Permian”. Di sepanjang Sungai Merangin, fosil batang pohon membatu (Araucarioxylon) dan fosil pakis purba (Pecopteris) tertanam tegak di tebing sungai, menjadi saksi bisu erupsi gunung berapi purba yang mengubur hutan jutaan tahun lalu.

Baca juga

Namun, pengakuan UNESCO bukan sekadar soal kebanggaan. Status ini menjadi kunci untuk membuka berbagai manfaat nyata.

Manfaat pertama adalah konservasi alam. Pengakuan UNESCO memberikan payung hukum dan perhatian global yang memperkuat upaya pelestarian kawasan. Ini penting mengingat Geopark Merangin menghadapi ancaman serius dari aktivitas tambang emas ilegal yang merusak bentang alam dan mengancam nilai geologinya.

Bulan lalu, dalam satu kesempatan Gubernur Jambi Al Haris menegaskan kekhawatirannya akan hal ini.

“Geopark Merangin bukan hanya kebanggaan Jambi, tetapi sudah menjadi warisan dunia yang diakui UNESCO. Karena itu, tidak boleh ada aktivitas apa pun yang merusak kawasan ini,” tegasnya.

Manfaat kedua adalah edukasi dan penelitian. Geopark Merangin menyumbangkan “pengetahuan unik” tentang flora Permian dan lanskap vulkanik tropis yang masih aktif bagi sains global, dari paleobotani hingga dinamika kaldera tropis.

Sebagai bagian dari jejaring UNESCO Global Geopark yang berjumlah 229 geopark di 50 negara, Merangin Jambi memiliki akses ke praktik terbaik, program pertukaran, dan kolaborasi penelitian lintas batas. Prof. Yongmun Jeon menekankan pentingnya peran geosite sebagai ruang pembelajaran publik.

Baca juga

“Geopark tidak hanya penting untuk geologi dan penelitian, tetapi juga untuk pelajar dan masyarakat. Sebaiknya ada papan informasi yang menjelaskan sejarah goa dan proses terciptanya stalaktit,” sarannya saat meninjau Goa Tiangko.

Manfaat ketiga adalah pemberdayaan ekonomi. Status UNESCO mendorong pengembangan geowisata yang berkelanjutan, memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.

Pengelola Batik Srikandi, Meri Diastuti, menyatakan bahwa keberadaan Geopark Merangin berdampak pada kelompok yang dipimpinnya.

“Sangat berdampak. Masyarakat yang terlibat mendapatkan tambahan pemasukan dari hasil penjualan batik ini. Pihak Geopark Merangin dan Universitas Jambi juga banyak memberikan bantuan berupa pelatihan ecoprint hingga pendampingan pemasaran,” jelasnya.

Rumah Batik Srikandi kini menjadi pusat edukasi dan telah mendatangkan wisatawan dari mana-mana, termasuk mancanegara. Tercatat turis dari Thailand, Maroko, hingga Jepang pernah menyambangi tempat ini.

Manfaat keempat tak kalah penting, yakni akses ke jaringan global. Dengan menjadi bagian dari UNESCO Global Geoparks, Merangin Jambi bukan hanya belajar dari dunia—dunia juga belajar dari Merangin Jambi.

Baca juga

Ini membuka peluang pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan promosi pariwisata internasional yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Masih ada beberapa hari ke depan hingga 15 Agustus 2026 untuk menyusuri lebih dalam kekayaan Geopark Merangin. Dari hari-hari pertama ini, semangat kolaborasi telah terasa. Seperti kata Jeon Yongmun, mereka datang bukan sebagai inspektur, melainkan teman yang siap berdiskusi dan mencari solusi terbaik.

Diolah dari berbagai sumber.
Kredit foto: Laman resmi Pemerintah Kabupaten Merangin

Punya informasi menarik yang layak dikabarkan dan perlu diketahui orang banyak? Laporkan ke kami.