Category Archives: Nasional

Pengalaman Berkesan Pemuda Talang Datar Jadi Bagian Serunya Pestapora 2025 di Jakarta

BAHAR POS – Setelah memendam rasa penasaran selama bertahun-tahun, Fajar (30), seorang pemuda asal Desa Talang Datar, Kecamatan Bahar Utara, Muaro Jambi, nekat pergi ke Jakarta demi menjadi bagian dari serunya Pestapora 2025. Sebuah pengalaman spesial yang menghadirkan perasaan campur aduk dalam memorinya.

Bagi sebagian besar orang di Bahar, jauh-jauh pergi ke Jakarta hanya demi menonton konser musik itu hal sia-sia. Cuma menghabiskan uang, juga membuang-buang waktu. Belum lagi harus mengarungi jalanan rusak dan macet selama berjam-jam.

Namun tidak demikian bagi Fajar. Di matanya, menyaksikan Pestapora 2025 bukan sekadar perkara mencontreng satu impian dalam whislist. Ini adalah caranya untuk melihat dunia luar, merasakan pengalaman baru, serta mengambil pelajaran yang mungkin bisa diterapkan di kampung halaman.

Hari pertama menginjakkan kaki di Gambir Expo & Hall D2, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat–lokasi Pestapora 2025, Fajar langsung diberi pengalaman istimewa: salat Jumat diimami Rhoma Irama sang raja dangdut!

Muazinnya tak kalah terkenal, yakni Muhammad Fauzan Lubis alias Ojan, vokalis grup band Sisitipsi. Sebuah momen yang entah kapan bisa terulang lagi dalam hidup Fajar.

“Artis-artis terkenal banyak jugo yang nonton. Orang-orang yang biaso dilihat di tivi atau YouTube, berbaur dengan penonton. Hal yang sulit diliat di Jambi,” tutur Fajar saat dihubungai Bahar Pos, Senin (8/9/2025), alias hanya sehari setelah hajatan tahunan ini usai.

Sayo papasan dengan Arie Kriting ado kali sepuluh kali, wkwk,” lanjutnya, seraya menambahkan jika (mantan) Menteri Olahraga Dito Ariotedjo juga terlihat, tetapi sulit didekati karena selalu dikawal.

Bingung Memilih

Hal spesial lainnya, Pestapora 2025 tak cuma menghadirkan deretan penyanyi dan band papan atas seperti biasa. Khusus tahun ini, penyelenggara membuat terobosan: para penampil diminta saling bertukar lagu!

“Kangen Band bawain lagu Sheila on 7. Itu sih, serunyo Pestapora tahun ini, pado tukeran lagu,” cerita Fajar yang masa kecilnya ditemani lagu-lagu kedua band tersebut.

“Yang paling spesial nonton Ebiet samo Iwan Fals. Pas momen Ebiet bawain lagu Ibunyo Iwan Fals, rasonyo langsung menusuk dada. Tanpa sadar menitikkan air mata, teringat Ibu,” lanjut Fajar.

Fajar memang belum lama ditinggal ibunya. Ia menjelaskan, sang ibu meninggal dunia pada 5 Mei 2024. Momen Ebiet menyanyikan lagu Ibu milik Iwan Fals itu ia abadikan dalam bentuk video.

Meski demikian, Fajar tentu saja tak mau larut dalam duka. Ia datang untuk bergembira, meski sempat dibuat bingung oleh banyaknya panggung dan beberapa band atau penyanyi favorit yang tampil bersamaan.

“Ini festival musik terbesar yang pernah sayo tonton. Sebelumnyo, kalau di Jambi paling banyak duo panggung, ini kemarin di Pestapora ado lima belas stage lebih.

“Jadi bingung mau nonton yang mano. Harus ado yang direlakan. Kayak kemarin contohnyo, nonton Dato’ Siti Nurhaliza harus merelakan Gigi dan atau Souljah karena mereka tampil bareng,” tambahnya.

Alhasil, Fajar yang datang bersama dua temannya sesama alumnus SMA Titian Teras Jambi, Gery dan Esa, seringkali berpencar karena punya pilihan berbeda-beda. Ia lebih memilih menyaksikan penampilan Dato’ Siti Nurhaliza.

Dato' Siti Nurhaliza di Pestapora 2025

Mereka bertiga berkumpul lagi di booth makanan seusai menyaksikan idola masing-masing. Ini titik lain dalam arena Pestapora 2025 yang membuat Fajar kagum luar biasa.

Booth kuliner ber-AC, bahkan antri makanan diatur. Dalam hati sayo ngomong, ini kalo tempat F&B Pestapora dipisah, biso jadi event dewek saking banyaknyo booth makanan,” kenang Fajar.

Penonton juga tak perlu risau antrian di toilet, sebab jumlahnya ada banyak. Bahkan ada area khusus pijat bagi pengunjung yang kakinya pegal usai terlalu lama berdiri, juga tempat penitipan anak.

Bingung mencari lokasi panggung di mana artis idola tampil atau ingin mencicipi jajanan tertentu?

Tinggal tanya saja pada panitia khusus yang membawa banner bertuliskan “ASK ME”. Mereka disiapkan khusus untuk membantu penonton mencari tempat-tempat tertentu dalam arena konser.

Terancam Batal

Fajar pertama kali mengetahui tentang Pestapora sejak edisi perdana yang digelar pada 23-25 September 2022. Ia yang rajin memantau media sosial melihat konser ini viral dan jadi pusat pemberitaan karena menawarkan konsep unik.

Tidak main-main, edisi perdana tersebut menampilkan 174 artis. Faktor yang membuat Pestapora 2022 sukses menarik total sekitar 75.000 penonton sepanjang tiga hari.

“Dulu pas awal-awal setelah Covid, event ini viral di sosmed. Sayo liat, kayaknyo seru nian. Tapi waktu itu baru balek ke Bahar, jadi belum kepikiran nonton,” kenang Fajar yang sempat tinggal lama di Bogor selepas menamatkan pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Edisi kedua pun ia lewatkan karena tengah sibuk dengan aktivitas di dunia cryptocurrency. Sebuah kesibukan yang membawanya ke Istanbul, Turki, diundang menghadiri serangkaian konferensi Web3 garapan satu Decentralized Exchange (DEX) asal Singapura.

Baru pada pertengahan tahun ini Fajar kembali teringat Pestapora. Pucuk di cinta ulam tiba, Gery mengontaknya, mengajak berangkat bareng dari Jambi. Sementara Esa bekerja di Tangerang, sehingga kebagian tugas menyambut di Ibu Kota.

“Gery ngajak sekitar bulan April atau Mei. Waktu itu sudah lewat tu, penjualan tiket early bird. Jadi kami nunggu penjualan tiket dibuka lagi, agak lamo,” kata Fajar.

Begitu penjualan tiket reguler dibuka secara resmi pada 16 Juli 2025, Fajar dan Gery langsung membeli di hari pertama. Selanjutnya mereka patungan memesan hotel di sekitaran Kemayoran.

Tiket konser sudah di tangan dan hotel juga sudah dipesan, selanjutnya Fajar dan Gery memesan tiket pesawat. Namun demikian, satu-dua hari menjelang acara justru berembus kabar kurang enak dari Jakarta.

“Hal tak terduganya justru pas dekat Hari-H. Karena demo-demo itu Pestapora kan terancam batal,” jelas Fajar.

Waktu itu memang Jakarta sempat dicekam serangkaian aksi demonstrasi yang diwarnai kericuhan. Suasana bertambah panas usai seorang pengemudi ojek online tewas terlindas kendaraan taktis Brimob.

“Dalam hati kesal nian kalau sampai Pestapora batal. Jadi, kami nunggu keputusan dari panitia. Kalau sampai batal, kami nak buru-buru refund hotel dan pesawat,” imbuh Fajar.

Beruntung suasana di Ibu Kota berangsur-angsur reda. Fajar yang terus memantau perkembangan situasi di media sosial akhirnya bernapas lega karena Pestapora tetap berjalan seusai agenda.

“Cuma yang biasonyo sore ke malam, diganti jadi pagi ke sore karena kondisi Jakarta yang kurang kondusif. Jadi, tantangannyo panas. Tapi pas baru masuk kami dikasih sunscreen, lumayan untuk mengurangi kulit terbakar,” lanjutnya.

Menghemat Pengeluaran

Jer besuki mawa bea, demikian bunyi ujar-ujar Jawa yang menjadi semboyan provinsi Jawa Timur. Artinya kurang-lebih semakna dengan ungkapan “tidak ada makan siang gratis.”

Demikian pula bagi Fajar. Ada harga dan pengorbanan yang harus ia bayar demi memperoleh pengalaman berkesan selama tiga hari menjadi bagian keseruan Pestapora 2025.

Dari segi nonmateril, ia musti meninggalkan keseruan lain di desanya, yakni menjadi panitia lomba agustusan. Padahal turnamen voli sedang seru-serunya karena memasuki fase gugur.

“Sebelum pergi kan, sayo jadi panitia tujuhbelasan. Jadi, badan masih di Bahar, tapi pikiran dan hati sudah melayang ke JIExpo Kemayoran,” tuturnya.

Lalu ada pula tantangan klasik bagi warga Bahar yang hendak ke kota: jalanan rusak nyaris sepanjang rute. Belum lagi jika sampai terjebak macet panjang yang biasa terjadi di jalur Penerokan-Tempino.

Sedangkan dari segi materi, Fajar mau tak mau merelakan secuil aset kriptonya dijual demi membiayai perjalanan ini: beli tiket Pestapora, tiket pesawat, booking hotel, ongkos travel Bahar-Jambi, serta uang saku selama di perjalanan.

Demi menekan pengeluaran, Fajar memutar akal agar mendapat harga termurah di semua titik. Untuk tiket Pestapora, misalnya, ia memilih tipe 3 Day Pass seharga Rp650.000 karena jatuhnya lebih ekonomis ketimbang Daily Pass (Rp300.000) maupun Daily Early Entry (Rp225.000).

“Untuk hotel, kami patungan pesan Red Doorz yang dekat venue acara. Nginap di hotel yang seratus ribuan per malam,” tulis Fajar, diikuti emoticon tertawa lebar.

Sedangkan untuk tiket pesawat, Fajar sengaja menunggu mepet hari keberangkatan dengan harapan harganya turun. Benar saja, kurang dari sepekan dari tanggal yang ia tetapkan, tarif yang tertera di aplikasi pemesanan online sudah berkurang lumayan.

Bagi Fajar, segala pengeluaran dan pengorbanan tersebut sepadan dengan apa yang didapat selama tiga hari di Pestapora. Perjalanannya lebih dari sekadar menonton musik. Itu adalah sebuah misi untuk memuaskan rasa ingin tahu, sekaligus membuktikan bahwa dunia di luar sana, dengan segala keunikan dan hiruk pikuknya, bisa dijangkau.

“Walaupun cuma sekali, harus dicoba nonton Pestapora, sebab dunia bukan cuman Bahar. Jakarta ini sudah dunia yang berbeda dengan Jambi, segala macam bentuk orang ado di Pestapora ini. Banyak kawan di Bahar harus lebih berani. Banyak caronyo, kok,” pesan Fajar pada seama kawula muda Bahar.

Diam-diam Fajar berharap, jika kelak ruas jalan tol Trans Sumatera sudah tersambung semua, akan ada festival semacam Pestapora di Jambi. Ia membayangkan konsernya di tengah hutan, lalu penonton dari Bahar road trip ke lokasi.

Ditanya pelajaran apa yang ia dapat dari Pestapora, Fajar berkata bahwa ia jadi menyadari besar-kecil itu hanyalah perkara jumlah. Yang sekarang besar, berawal dari kecil dulu.

“Ternyata sekecil apapun yang tampil di Pestapora ini, ado bae penggemarnyo yang tau semua lagunyo. Terus, bener kayaknyo orang tuh emang punyo genre musik masing-masing,” simpul Fajar.

Dari sana, ia mendapat pesan untuk jangan pernah minder hanya karena merasa “kecil” dibandingkan orang lain. Teruslah berkarya, sebab konsistensi yang akan membantu kita tumbuh lebih besar dari waktu ke waktu.

Walaupun melelahkan, bagi Fajar menonton Pestapora 2025 adalah pengalaman yang sangat berharga lagi mengesankan. (en)

Lolos Seleknas, Dua Atlet Polo Air Jambi Masuk Pelatnas SEA Games 2025 di Stadion Akuatik GBK

BAHAR POS – Dua atlet polo air putra asal Jambi, penjaga gawang Didi Akbar dan striker Wildan Awwalu Naafi Dienma, mendapat panggilan bergabung ke program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) menuju SEA Games 2025.

Kabar ini dipastikan dalam surat keputusan Pengurus Besar (PB) Akuatik Indonesia yang menyebutkan nama Didi Akbar dan Wildan Awwalu. Kedua atlet dinyatakan lolos dalam Seleksi Nasional (Seleknas) yang diadakan beberapa waktu lalu.

Pelatih polo air Jambi, Ahmad Sri Bagas, mengonfirmasi pemanggilan kedua atlet tersebut. Ia menambahkan, Pengurus Provinsi (Pengprov) Akuatik Indonesia Jambi mengirim tiga atlet putra untuk mengikuti Seleknas, tetapi yang lolos hanya Didi dan Wildan.

“Berdasarkan hasil Seleknas yang digelar beberapa waktu lalu, dari tiga atlet Jambi yang ikut Seleknas dan berhasil terpilih masuk Pelatnas hanya dua. Kedua atlet tersebut adalah Didi Akbar di posisi kiper dan Wildan Awwalu Naafi Dienma di posisi pemain,” kata Bagas, Rabu (10/9/2025).

Bagas melanjutkan, kesempatan mengikuti Seleknas diberikan karena tim putra polo air Jambi sebelumnya berhasil meraih medali perak pada ajang Kejuaraan Nasional Akuatik di Jakarta, 29 Mei – 4 Juni 2025.

Meski hanya menduduki peringkat kedua, usai kalah dari DKI Jakarta di partai final, kontingen Jambi memborong dua penghargaan individual dalam Kejurnas tersebut. Keduanya di sektor kunci, yakni penjaga gawang dan penyerang.

Didi Akbar menyabet penghargaan sebagai Best Goal Keeper. Sementara Wildan Awwalu Naafi Dienma tercatat sebagai top skor dengan koleksi total 24 gol.

Kedua atlet diminta segera bergabung dalam Pelatnas yang akan dimulai pada 15 September 2025 di Stadion Akuatik GBK Senayan, Jakarta.

Masuknya kedua pemain asal Jessica Swimming Club ini menjaga tradisi panjang Jambi dalam melahirkan atlet nasional cabang polo air. Di mana talenta Jambi kerap memperkuat tim nasional di berbagai ajang internasional, termasuk SEA Games dan Asian Games.

Di level nasional, Jambi telah mengoleksi banyak medali. Mulai dari medali perak putra pada PON 1996 di Jakarta, perunggu putri di PON 2012 Riau, medali perunggu putra pada PON 2024 Aceh-Sumut, serta yang terbaru medali perak pada Kejurnas 2025 di Jakarta.

SEA Games 2025 sendiri akan dilangsungkan di Thailand pada 9 – 20 Desember mendatang. Sejauh ini Jambi telah mengirim total 3 atlet dari dua cabang olahraga bagi Pelatnas.

Selain Didi Akbar dan Wildan Awwalu Naafi Dienma di cabang polo air putera, sebelumnya sudah ada Juliana Klarissa di cabang angkat besi puteri. Juliana lolos Seleknas yang diadakan PB Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia di Jakarta, 20-21 Agustus lalu.

SustainPalm Project, Jejak Inovasi Sawit yang Memberikan Harapan Baru bagi Petani

BAHAR POS – SustainPalm Project, sebuah inisiatif yang melibatkan universitas di Indonesia dan Belanda, resmi berakhir setelah tiga tahun berjalan. Meski program ini tak lagi berlanjut, warisan dan ide besarnya diharapkan tetap dapat berjalan.

Berakhirnya proyek ini ditandai dengan SustainPalm Annual Meeting yang diadakan di IPB International Convention Center, Botani Square Bulding, Kota Bogor, Senin (2/9/2025) lalu.

Sejumlah tamu kehormatan hadir dalam acara ini. Di antaranya Dida Gardera dari Kemenko Perekonomian, Joost van Uum dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Prof Jan Verhagen selaku Program Manager SustainPalm Project, serta perwakilan dari beberapa mitra perguruan tinggi dalam negeri.

Acara ini menjadi momen penting yang bukan sekadar menutup perjalanan panjang proyek kolaborasi dua negara, melainkan juga menegaskan warisan yang ingin ditinggalkan: inovasi untuk keberlanjutan perkebunan sawit di Indonesia.

Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, dalam sambutannya menegaskan arah besar proyek ini.

“SustainPalm adalah perjalanan bersama yang membuktikan bahwa sektor sawit dapat menjadi penopang kehidupan sekaligus menjaga bumi bagi generasi mendatang. Walaupun proyeknya berakhir, semangat kolaborasi dan nilai-nilai keberlanjutan harus terus hidup, menjadi fondasi kebijakan, memperkuat komunitas, dan mengakar dalam DNA industri sawit Indonesia,” ucapnya, seperti dikutip laman resmi IPB University.

Didukung Kerajaan Belanda

Proyek SustainPalm lahir dari kolaborasi antara IPB University, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Wageningen University and Research (WUR), serta Van Hall Larenstein University of Applied Sciences (VHL) Belanda.

Didukung pula oleh pemerintah Belanda dan Kemenko Perekonomian RI, proyek ini dirancang untuk menjawab tantangan sawit yang kerap terjebak stigma negatif: deforestasi, konflik lahan, hingga isu kesejahteraan petani.

Keterlibatan Belanda tak sekadar transfer ilmu. Ada proses bersama merancang metodologi riset, menciptakan sistem Living Labs, dan membangun Communities of Practice (CoPs). Model ini memungkinkan peneliti, petani, pelaku usaha, dan pemerintah duduk bersama, lalu menguji inovasi di lapangan secara langsung.

Salah satu inovasi yang banyak disorot adalah Sistem Integrasi Sapi–Kelapa Sawit (SISKA). Melalui pendekatan ini, petani bisa memanfaatkan kebun sawit bukan hanya untuk produksi tandan buah segar, tetapi juga sebagai padang penggembalaan sapi.

Hasilnya adalah sebuah lingkaran yang menguntungkan baik bagi hewan ternak, tanaman, serta petani. Karena dengan strategi ini limbah sawit dapat dikonversi menjadi pakan ternak, sementara kotoran sapi menjadi pupuk alami.

Tak hanya itu, praktik intercropping atau tumpangsari juga dikembangkan. Petani diajak menanam tanaman pangan atau hortikultura di sela kebun sawit.

Cara ini membantu diversifikasi pendapatan, menjaga ketahanan pangan lokal, sekaligus memperkaya ekosistem kebun. Sebuah pendekatan yang tak hanya menguntungkan petani, tetapi juga ekosistem dalam kebun.

Dua pendekatan tersebut, yakni SISKA dan intercropping, dipandang memberi petani peluang meningkatkan nilai tambah lahan tanpa mengorbankan keberlanjutan. Pandangan ini sejalan dengan kontribusi mitra penelitian seperti Balit Palma dalam proyek SustainPalm.

Bagi IPB University, proyek ini juga menjadi sarana menegaskan peran riset dalam menjawab isu global.

“Salah satu fokus kami adalah memanfaatkan limbah sawit menjadi produk bernilai guna. From waste to wealth, sebagai bagian dari pendekatan circular economy,” kata Prof. Arif Satria.

Di sisi lain, komunitas petani yang terlibat dalam Living Labs mengaku mendapat pengalaman berharga. Mereka bukan lagi sekadar objek penelitian, melainkan bagian aktif dalam pengambilan keputusan.

Di sinilah Communities of Practice menemukan makna: pengetahuan yang dibangun bersama, bukan diturunkan sepihak.

Harapan Setelah Proyek Berakhir

SustainPalm resmi berakhir di 2025, tetapi para mitra berharap nilai-nilai yang ditanam tetap hidup. Proyek ini memang punya batas administratif, tetapi model Living Labs dan CoPs diyakini bisa menjadi rujukan nasional untuk berbagai komoditas lain, tidak hanya sawit.

Pihak Belanda melalui perwakilan Wageningen University menegaskan, keberlanjutan proyek bukan hanya soal dana, melainkan tentang menjaga jejaring pengetahuan yang sudah terbentuk. Keterhubungan antar universitas, petani, dan pembuat kebijakan harus terus dipelihara.

Sementara itu, Kemenko Perekonomian menyambut baik capaian SustainPalm, terutama karena selaras dengan upaya pemerintah mendorong sawit berkelanjutan melalui skema ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

Bagi sebagian pihak, SustainPalm mungkin hanya satu dari sekian banyak proyek kolaborasi internasional. Namun bagi petani yang merasakan langsung manfaatnya, ini adalah tonggak penting.

Dari limbah menjadi nilai tambah, dari monokultur menuju diversifikasi, dari stigma menuju pengakuan bahwa sawit bisa berkelanjutan. Seperti yang ditegaskan Prof. Arif Satria di penghujung acara.

“Warisan terbesar SustainPalm bukan hanya laporan penelitian, melainkan jejaring manusia yang percaya bahwa sawit bisa dikelola dengan bijak. Inilah optimisme yang harus terus dirawat.”

Dengan semangat itu, meski SustainPalm menutup babak formalnya, harapan besar yang diusungnya justru baru dimulai: sawit Indonesia yang lebih inklusif, inovatif, dan lestari.

Atlet Kurash Jambi Borong Medali di Kejuaraan Asia Tenggara, Gondol Enam Emas dan Masing-Masing Satu Perak-Perunggu

BAHAR POS – Atlet muda bela diri Jambi tampil gemilang pada Kejuaraan Kurash se-Asia Tenggara di Lombok, yang baru saja berakhir pada Senin (1/9/2025) lalu. Mewakili Indonesia, anak-anak muda Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah tersebut meraih total enam medali emas.

Kejuaraan Kurash Asia Tenggara (KUSEA) tahun 2025 digelar pada 28 Agustus hingga 1 September 2025 di Hotel Sheraton Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 300 atlet dari tujuh negara bertanding dalam event ini.

Indonesia menurunkan 98 atlet, dengan 15 di antaranya berasal dari NTB selaku tuan rumah. Sedangkan Federasi Kurash Indonesia (Ferkushi) Provinsi mengirimkan lima atlet binaannya untuk bergabung dalam Tim Indonesia.

“Mereka itu bisa memperkuat tim Indonesia berdasarkan hasil seleksi nasional. Yang terbaik, terpilih dan mengikuti Kejuaraan Kurash se-Asia Tenggara ini,” kata Ketua Ferkushi Jambi, Johari.

Dari lima atltet tersebut, empat di antaranya menyumbangkan medali. Dengan rincian enam medali emas, satu medali perak, serta satu medali perunggu.

Johari menjelaskan bahwa ketiga atlet yang menyumbangkan emas untuk Indonesia tersebut adalah Arsyi Yanumi, Diva Putri Maharani, dan Muhammad Andrriel dengan raihan masing-masing dua medali emas.

“Arsyi Yanumi berhasil meraih dua medali emas untuk nomor in door dan out door pada kelas –45 Kg putra children. Diva Putri Maharani raih dua emas in door dan out door kelas +32 Kg putri children. Muhammad Andrriel dapat dua medali emas in door dan out door kelas –35 Kg putra children,” rinci Johari.

Satu atlet Jambi lainnya, Mamoru, memperkuat catatan prestasi dengan meraih medali perunggu in door dan perak out door di kelas –65 Kg putra cadet.

Prestasi ini datang di tengah pembinaan kurash yang masih tergolong baru di Jambi. Sekaligus menambah panjang daftar prestasi Ferkushi Jambi setelah sebelumnya menyumbang medali untuk kontingen provinsi pada PON 2024.

Pada PON XXI yang digelar di Aceh–Sumut tahun lalu, cabang tim kurash Jambi berhasil menyumbang tiga medali perunggu bagi kontingen provinsi. Prestasi ini menandai tonggak awal dari pembinaan kurash yang menjanjikan di tingkat nasional.

Melihat perkembangan ini, Johari merasa optimistis dengan masa depan pembinaan cabang olahraga kurash di Jambi.

“Saya optimis perkembangan cabang olahraga bela diri kurash ini bisa terus meningkat di Provinsi Jambi,” harapnya.

Kurash adalah seni bela diri tradisional asal Uzbekistan. Mirip judo, tapi dengan aturan yang sangat berbeda. Misalnya, pada kurash atlet hanya boleh memegang pakaian lawan di atas pinggang, sehingga memiliki teknik lebih terbatas dibanding judo atau sambo.

Seni bela diri ini sudah dipraktikkan sejak ribuan tahun lalu di Uzbekistan sebagai bagian dari budaya dan festival rakyat. Fokusnya terletak pada bantingan (grappling/throwing), sehingga tidak ada pukulan atau tendangan.

Untuk keluar sebagai pemenang, atlet harus bisa menjatuhkan lawan dengan teknik lemparan yang bersih untuk mendapat poin.

Cabang olahraga ini sudah diakui secara internasional. Telah ada federasi resmi yang mewadahi atlet sekaligus memutar kompetisi sebagai sarana pembinaan, yakni International Kurash Association (IKA). Cabor kurash juga telah dipertandingkan di Asian Games dan SEA Games.

Sedangkan di Indonesia, kurash baru berkembang beberapa tahun terakhir. PB Ferkushi (Federasi Kurash Seluruh Indonesia) dibentuk untuk membina atlet-atlet, dan Jambi termasuk provinsi yang aktif mengirimkan atletnya.

Terima Sertifikat Laik Fungsi dan Operasi, Tol Tempino-Ness Siap Beroperasi

BAHAR POS – PT Hutama Karya (Persero) mencetak capaian penting dalam proyek Jalan Tol Betung (Sp. Sekayu) – Tempino – Jambi, seiring dengan siap beroperasinya Seksi 4 (Tempino–Ness) menyusul perolehan Sertifikat Laik Fungsi dan Operasi (SLFO) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Proyek sepanjang 18,49 km yang memperpanjang ruas tol Bayung Lencir-Tempino ini berhasil memperoleh SLFO dengan predikat bintang 5 dari PUPR pada Jumat (22/8/2025) lalu. Menunjukkan kesiapan ruas tol tersebut untuk melayani masyarakat dengan standar kualitas dan keselamatan tertinggi.

Eksekutif Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah dan menegaskan bahwa pencapaian ini mencerminkan keseriusan perusahaan dalam membangun jalan tol berstandar tinggi.

“Predikat ini bukti komitmen Hutama Karya yang mampu menghadirkan infrastruktur jalan tol berstandar tinggi. Ruas Tempino–Ness kami siapkan dengan cermat agar mengakomodir perjalanan yang aman, efisien, dan bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa secara substansi, ruas tol ini sudah siap untuk beroperasi. Namun, operasional resmi masih menunggu penerbitan keputusan dari Menteri PUPR.

Setelah sepenuhnya beroperasi, tol ini diproyeksikan memangkas waktu tempuh antara Jambi dan Betung dari lebih dari empat jam menjadi sekitar dua jam saja. Sementara itu, perjalanan dari Bayung Lencir (Sumatera Selatan) ke Simpang Ness di Jambi kini hanya membutuhkan sekitar 45 menit, dibandingkan sebelumnya yang hampir tiga jam.

Selain memecahkan kemacetan pada jalur Lintas Sumatera, tol ini juga diharapkan memperlancar distribusi logistik, terutama angkutan batu bara dan hasil sumber daya alam. Dampaknya, diperkirakan produktivitas kawasan dan industri sekitar akan terdorong signifikan.

Proses Uji Kelayakan dan Fasilitas Lengkap

SLFO bintang 5 diraih setelah Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO) yang dilaksanakan pada 6–8 Agustus 2025. Uji tersebut meliputi pemeriksaan teknis lapangan—struktur jalan utama, bahu jalan, drainase, rambu keselamatan—serta evaluasi administrasi sesuai regulasi Kementerian PU.

Secara teknis, tol Tempino–Ness dibangun dengan dua lajur per arah, dilengkapi bahu jalan (dalam dan luar), drainase modern, on-off ramp, rambu keselamatan, penerangan jalan umum (PJU), pos pemantauan, dan sistem CCTV 24 jam untuk menjaga keamanan pengguna.

Adjib juga mengungkapkan harapannya agar masyarakat di Jambi dan Sumatera Selatan dapat menikmati perjalanan yang lebih cepat, aman, dan nyaman—khususnya menghadapi periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Hingga saat ini, Hutama Karya telah membangun lebih kurang ±1.235 km Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS), mencakup ruas-ruas yang beroperasi maupun dalam tahap konstruksi.

Ruas yang telah beroperasi antara lain:

  • Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (140 km)
  • Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 km)
  • Tol Palembang – Indralaya (22 km)
  • Tol Indralaya – Prabumulih (64 km)
  • Tol Betung – Jambi Seksi 3 (Bayung Lencir – Tempino) (33,6 km)
  • Tol Pekanbaru – Dumai (132 km)
  • dan beberapa lainnya seperti Tol Sigli – Banda Aceh, Tol Padang – Sicincin, serta ruas-ruas di Sumatra Utara dan Pulau Sumatera lainnya

Dengan demikian, Jalan Tol Tempino–Ness kini berada di ambang fase operasional penuh, siap memperkuat konektivitas dan mendongkrak efisiensi perjalanan antarwilayah serta distribusi logistik di Sumatera.

Tabrakan Beruntun di Jalur Pantura Pemalang, 7 Mobil Ringsek

BAHAR POS – Kecelakaan beruntun yang melibatkan setidaknya 7 mobil terjadi di pertigaan lampu merah Blandong, Comal, Kabupaten Pemalang, Sabtu (30/8/2025) siang. Arus lalu lintas pun menjadi macet total.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 11.50 WIB. Tujuh kendaraan yang terlibat antara lain sebuah mobil boks, truk barang, minibus, serta sejumlah kendaraan pribadi jenis sedan dan MPV.

Akibat kecelakaan ini, lalu lintas Jalur Pantura Pemalang rute Jakarta-Semarang sempat macet total. Adapun arah sebaliknya turut terhambat karena warga yang melintas banyak berhenti untuk melihat kejadian lebih dekat.

Petugas kepolisian yang berada di pos penjagaan tak jauh dari pertigaan segera turun tangan. Dibantu warga, petugas mengevakuasi para korban dari dalam kendaraan dan mengatur arus lalu lintas.

Belum didapat keterangan apakah ada korban jiwa serta berapa korban luka dalam kecelakaan beruntun ini. Pihak kepolisian masih mengusut penyebab pasti yang membuat tujuh kendaraan terlibat musibah.

Namun kejadian ini bukan yang pertama di pertigaan lampu merah Blandong, Comal. Pada 21 April lalu, kecelakaan beruntun juga terjadi di lokasi sama, melibatkan lima kendaraan dan menewaskan dua orang.

Kala itu sebuah truk tonton tak mampu mengendalikan lajunya saat tiba di lampu merah. Akibatnya, kendaraan tersebut menubruk satu unit truks boks di depannya, lalu membanting setir ke kiri dan menyeret tiga sepeda motor sampai masuk ke parit jalan.

Satu pengendara sepeda motor tewas di tempat, yakni Sunoto (45) warga Desa Blendong, Kecamatan Ulujami, Pemalang. Kemudian seorang lagi meninggal saat dievakuasi, yakni atas nama Sobri (55) warga Jatirejo, Kecamatan Ampelgading. Pemalang.

Selain itu empat orang lainnya mengalami luka-luka dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Comal Baru. Keempat korban luka merupakan pengendara sepeda motor, serta sopir truk dan kernetnya.

Komisi XII DPR RI Panggil 10 Perusahaan Tambang Batu Bara “Bandel” di Jambi

BAHAR POS — Komisi XII DPR RI memanggil 10 perusahaan tambang baru bara di Jambi ke Senayan, Rabu (27/8/2025) sore WIB. Panggilan ini merupakan respons atas hasil kunjungan anggota legislatif ke Jambi, beberapa waktu sebelumnya.

Kesepuluh perusahaan batu bara dihadirkan dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat (RDP). Seluruh pimpinan dan anggota Komisi XII DPR RI hadir dalam acara ini, termasuk tiga anggota dari Dapil Jambi, yakni Rocky Chandra, Drs. H. Cek Endra, serta DR H. Sy Fasha ME.

Dalam RDP, Syarif Fasha yang merupakan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI mengingatkan kembali akan keluhan publik dan temuan terkait rendahnya kepatuhan terhadap reklamasi pasca tambang dan prinsip pengelolaan lingkungan yang baik yang didapat timnya saat melakukan kunjungan kerja di Jambi.

Kesepuluh perusahaan tambang yang dipanggil dalam RDP ini dinilai “bandel” dan belum memenuhi ketentuan.

“Benar (10 perusahaan, Red.). Perusahaan yang sudah melakukan perbaikan di lapangan paska hearing kemarin di Jambi, tidak kita undang lagi. OIni hanya perusahaan yang bandel saja,” ujar Syarif Fasha.

Adapun 10 perusahaan yang hadir dalam RDP tersebut adalah PT Bumi Bara Makmur Mandiri, PT Batu Hitam Jaya, PT Global Indo Alam Lestari, PT Karya Bumi Baratama, PT Tebo Batubara Investama, PT Minimex Internasional, PT Surya Global Makmur, PT Anugerah Jambi Coalindo, PT Sarolangun Bara Prima, dan PT Karya Bungo Pantai Ceria.

Syarif Fasha juga menitikberatkan bahwa unsur transparansi—khususnya dalam status Izin Usaha Pertambangan (IUP), Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta pelaksanaan reklamasi dan reboisasi—adalah aspek penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan tambang.

“Perusahaan kami minta menjelaskan IUP mereka, apakah masih aktif, bagaimana RKAB-nya, lalu apakah sudah melakukan reboisasi dan reklamasi,” tegas Fasha.

Sementara anggota komisi dari Jambi lainnya, Cek Endra, menggarisbawahi bahwa persoalan reklamasi bukan sekadar teknis, tetapi menjadi sumber keresahan publik. Ia menyoroti langsung situasi di Koto Boyo, Kabupaten Batang Hari, di mana reklamasi belum dilakukan secara tuntas.

“Reklamasi ini masalah utama… sudah menambang bertahun-tahun, tapi tak kunjung melakukan reklamasi. Ini harus dibuka secara terang, sebutkan saja perusahaannya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, dalam kunjungan kerjanya ke Jambi, menekankan perlunya menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dalam praktik pertambangan.

Bambang Patijaya menyampaikan bahwa masih banyak perusahaan yang perlu meningkatkan usahanya dalam menjaga lingkungan, melaksanakan tanggung jawab sosial, dan tata kelola berkelanjutan.


Ringkasan Fakta:

AspekInformasi
Tema UtamaPemanggilan 10 perusahaan tambang “bandel” oleh Komisi XII DPR RI
Poin TekananReklamasi pasca tambang, transparansi IUP, RKAB, dan reboisasi
Pembicara KunciSyarif Fasha, Cek Endra, Bambang Patijaya
Prinsip DitekankanESG sebagai panduan pengelolaan tambang berkelanjutan
Latar BelakangLaporan masyarakat dan temuan lapangan dari kunjungan Komisi XII ke Jambi

Dwi Hartono Bimbel Apa? Dari “Smart Solution”, Guruku, hingga Dugaan Otak Pembunuhan

BAHAR POS — Nama Dwi Hartono menjadi pusat perhatian publik menyusul kasus pembunuhan Kepala Kantor Cabang Bank di Jakarta. Terbaru, warganet ramai-ramai bertanya, “Dwi Hartono bimbel apa?”

Sejak ditangkap aparat kepolisian pada 23 Agustus lalu, nama terduga otak pembunuhan ini memang kerap disebut-sebut sebagai pengusaha bimbel online. Namun tidak disebutkan jelas apa nama bimbel yang dijalankannya.

Penelusuran mengungkap bahwa Dwi Hartono mempunyai aplikasi bimbel online bernama Guruku. Logo aplikasi ini dalam ukuran besar bahkan terpajang di kediamannya di Kluster San Fransisco, Kompleks Kota Wisata Cibubur.

Guruku dijalankan Dwi Hartono lewat PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia. Namun jika melongok informasi mengenai aplikasi ini yang tertera di Google PlayStore, rasa-rasanya bukan Guruku yang pantas membuatnya disebut sebagai pengusaha bimbel.

Soalnya, aplikasi Guruku baru diunduh oleh seribuan pengguna Android. Angka pastinya tidak diketahui, hanya tertera keterangan “1,000+ downloads” pada halaman rincian aplikasi.

Ini jumlah yang kecil untuk sebuah aplikasi Android. Tak heran jika PlayStore melabeli Guruku sebagai beta project, sebagaimana terlihat dari banner ajakan untuk menjadi pengguna awal.

Jumlah pengguna Guruku bisa jadi malah lebih rendah dari angka total pengunduhnya, sebab hanya ada 11 ulasan yang masuk. Padahal halaman sama juga mencantumkan jika aplikasi tersebut dirilis pada 9 Agustus 2023. Artinya, telah eksis selama setidaknya dua tahun.

Memang tidak ada rasio ideal yang pasti antara jumlah ulasan pengguna dengan jumlah unduhan. Namun rasio yang lebih tinggi, misalnya 1:100 atau 1 review untuk setiap 100 unduhan, menunjukkan jika sebuah aplikasi memiliki pengguna aktif dan hidup.

Smart Solution

Penelusuran lebih jauh membawa kita pada sebuah kasus lama di Semarang pada 2012. Kala itu Dwi berhadapan dengan perkara hukum berkaitan dengan bisnis bimbel miliknya, Smart Solution.

Smart Solution dikelola Dwi bersama sejumlah rekan. Tak sekadar menawarkan bimbingan belajar, bisnis tersebut diduga menawarkan jalur belakang masuk perguruan tinggi, termasuk layanan memalsukan ijazah dan menyediakan “joki” masuk kampus tertentu.

Imbalan yang diminta Smart Solution tidak main-main, dikabarkan mencapai Rp 100–500 juta tergantung jurusan dan kampus tujuan. Dalam praktiknya, lembaga ini dapat meng-upgrade lulusan IPS menjadi IPA demi mempermudah penerimaan di universitas.

Praktik curang ini terbongkar pada 2012, saat Polrestabes Semarang menangkap Dwi atas kasus pemalsuan dokumen. Ia dijerat karena memalsukan rapor dan ijazah mahasiswa — termasuk menjadikan Smart Solution sebagai jalur licin agar siswa bisa masuk ke salah satu universitas swasta terkemuka di ibukota Jawa Tengah itu.

“Melalui bimbelnya, dia bisa mengubah ijazah IPS menjadi IPA. Bahkan ada paket masuk universitas dengan biaya ratusan juta rupiah,” terang Kapolrestabes Semarang kala itu, Kombes Pol. Elan Subilan.

Perbuatan Dwi terbongkar usai polisi menerima kiriman surat kaleng. Isinya daftar nama dan metode operasi dalam praktik curang tersebut.

Polrestabes Semarang lantas melakukan penyelidikan. Hasilnya, Dwi tak hanya memalsukan dokumen, tapi juga menyediakan jasa joki tes masuk universitas. Sebuah cara yang tidak terpuji untuk menembus kampus idaman.

Saat kasus Smart Solution mencuat, pihak kampus yang disebut-sebut menjadi target utama Dwi sempat berupaya mencabut laporan. Akan tetapi pihak kepolisian terus melanjutkan penyidikan karena perbuatan pelaku termasuk tindak pidana murni.

Putusan pengadilan saat itu menjerat Dwi Hartono dengan hukuman penjara selama 6 bulan.

Kini, nama Dwi kembali menjadi sorotan. Namun bukan lagi karena bimbel, melainkan dugaan menjadi otak penculikan yang berujung pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakarta Pisat, Mohamad Ilham Pradipta.

Pihak kepolisian masih terus menyelidiki kasus ini. Namun setidaknya kini publik telah mendapat jawaban atas pertanyaan: bimbel apa yang dijalankan Dwi Hartono?

Ringkasan Fakta

FaktaKeterangan
Bimbel Dikelola DwiSmart Solution, aktif sekitar 2012
Modus KejahatanJoki masuk kampus, pemalsuan dokumen, termasuk mengubah IPS ke IPA
Biaya LayananRp 100 juta hingga Rp 500 juta, tergantung layanan
Akibat HukumVonis penjara 6 bulan oleh PN Semarang
Konteks Saat IniKini Dwi diduga sebagai aktor intelektual dalam kasus pembunuhan Kacab Bank

UGM Nonaktifkan Status Mahasiswa Dwi Hartono buntut Kasus Pembunuhan Kepala Cabang BRI

BAHAR POS – Satu lagi fakta baru terkait Dwi Hartono terkuak. Ia ternyata tengah menempuh pendidikan pascasarjana di Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada kampus Jakarta.

Fakta ini bukan hal baru bagi follower akun media sosial Dwi. Dalam salah satu unggahan di Instagram @klanhartono sekitar awal tahun ini, ia membeberkan sendiri jika tengah kuliah S2 dengan mengambil jurusan MBA di UGM.

“Banyak yang menanyakan, kenapa saya mengambil MBA di UGM. Setelah saya searching, ternyata MBA UGM adalah program MBA pertama yang terakreditasi secara internasional dan di tingkat Asia rangking 25,” jelas Dwi Hartono kala itu.

Dalam unggahan tersebut, Dwi mengenakan t-shirt bertuliskan “MBA UGM” berwarna merah.

Menyusul penangkapan Dwi sebagai terduga otak penculikan yang berujung kematian Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Mohamad Ilham Pradipta (37), UGM merespons dengan menonaktifkan pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, tersebut.

“Yang bersangkutan telah dinonaktifkan dari seluruh kegiatan akademik Semester Gasal 2025/2026 sebagai bentuk dukungan UGM terhadap proses hukum dan penyelidikan yang tengah berlangsung,” kata Juru Bicara UGM I Made Andi Arsana dalam keterangan resminya di Yogyakarta, Rabu (27/8/2025), sebagaimana dikutip Antara.

Andi Arsana menjelaskan Dwi Hartono tercatat sebagai mahasiswa baru Semester 1 Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM kampus Jakarta. Menurutnya, keputusan penonaktifan ini ditetapkan melalui surat resmi yang diteken oleh Dekan FEB UGM Prof. Dr. Didi Achjari.

“UGM menghormati sepenuhnya proses hukum yang berjalan, menjunjung asas praduga tak bersalah, dan berkomitmen menjaga integritas serta profesionalisme,” lanjut Andi Arsana.

Lebih lanjut, Andi Arsana menyampaikan ucapan belasungkawa mendalam atas kematian Mohammad Ilham Pradipta. UGM selaku institusi pendidikan juga mengecam keras segala bentuk kekerasan.

“Kami berharap keadilan dapat terwujud bagi semua pihak,” tutup Andi Arsana.

Melongok Rumah Megah Dwi Hartono, Crazy Rich Rimbo Bujang Terduga Dalang Penculikan-Pembunuhan Kepala Cabang BRI

BAHAR POS – Dua rumah mewah berdampingan di kawasan elit Kota Wisata, Gunung Putri, Bogor, dipastikan bakal langsung mencuri perhatian siapapun yang melihat. Terlebih jika tahu sosok pemiliknya yang kini tengah terjerat kasus berat.

Dua rumah tersebut milik Dwi Hartono, sosok yang disebut-sebut sebagai pengusaha berbagai bidang. Kepemilikan sepasang properti tersebut seakan menjadi bukti kesuksesan pria tersebut di dunia bisnis.

Kedua unit milik Dwi terletak di jalan utama dalam Kluster San Francisco. Masing-masing berdiri di atas lahan seluas 495 meter persegi, sehingga total hampir 1.000 meter persegi.

Menilik informasi dari laman resmi pertanahan (bhumi.atrbpn.go.id), kedua tanah berstatus hak milik. Sedangkan estimasi harga tanah di kawasan tersebut berada di rentang Rp 5 juta–10 juta per meter persegi.

Sedikit bermatematika, nilai tanahnya saja bisa mencapai setidak-tidaknya Rp5 miliar. Belum lagi jika ditambah dengan bangunan megah di atasnya.

Dalam sebuah video di kanal YouTube-nya, Klan Hartono, Dwi menceritakan jika dirinya sempat jatuh bangkrut dan terlilis utang miliaran. Namun ia mampu bangkit, sampai akhirnya bisa membeli rumah seharga Rp5 miliar.

Tidak dijelaskan rumah mana yang dibeli Dwi kala itu. Apakah dua hunian mewah di Kluster San Fransisco, Kompleks Kota Wisata ini?

Rumah Sekaligus Kantor

Dari luar, hunian ini benar-benar menghadirkan kesan megah dan mapan. Kedua rumah dicat putih-hitam berpadu dengan genteng kecokelatan, ditambah pagar emas yang berkilau di bawah sinar matahari. Taman depan dihiasi tanaman hias, lengkap dengan pohon palem merah yang menjulang.

Detail rumah juga memperlihatkan jejak aktivitas pemiliknya. Unit bernomor Q1/8 menampilkan logo “GURUKU” di balkon, yang mengingatkan pada aplikasi bimbingan belajar online di bawah naungan PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia milik Dwi.

Di garasi, terdapat tulisan “WD Fashion”, menunjukkan kiprah usahanya di bidang lain. WD besar kemungkinan diambil dari nama belakang istri Dwi, yakni Wulandari.

Sementara rumah bernomor Q1/9 memiliki carport berkanopi dan lima pilar besar yang menjulang dari lantai dasar ke lantai dua—sebuah gaya arsitektur yang menambah wibawa bangunan. Tak seperti rumah di sebelahnya, tak ada logo maupun penanda apapun di sini.

Namun, keindahan hunian mewah tersebut kini terasa ironis. Di balik megahnya fasad, pemilik rumah justru tengah menghadapi sorotan publik.

Dwi Hartono diduga menjadi otak kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Mohamad Ilham Pradipta (37). Namanya kian ramai dibicarakan, tak hanya karena kasus, tapi juga karena gaya hidup dan jejak sosialnya.

Polda Metro Jaya telah menangkap pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, tersebut pada 23 Agustus lalu. Ketika itu Dwi berada dalam satu mobil bersama dua rekannya, YJ dan AA, yang tengah melaju di Jl. Solo-Jogja.

Crazy Rich Rimbo Bujang

Di kampung halamannya, Desa Mekar Kencana, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi, Dwi sebelumnya dikenal sebagai motivator dan pengusaha muda yang dermawan. Berbagai aksinya membuat pria ini dijuluki Crazy Rich Rimbo Bujang.

Warga setempat masih ingat bagaimana Dwi pernah membantu menyediakan ambulans untuk desa. Juga momen ketika ia pulang kampung dengan helikopter yang tentu saja membuat heboh.

Dwi juga pernah mendatangkan penyanyi dangdut top Via Vallen sebagai hiburan di acara khitanan puteranya pada 2018 lalu. Itu adalah masa-masa di mana Via tengah naik daun, sehingga bisa dipastikan honornya juga tengah tinggi-tingginya.

Terbaru, ia sempat mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati Pemalang ke DPC Partai Kebangkitan Bangsa setempat. Namun namanya tak lolos saringan internal partai yang lebih memilih mengusung pesohor Vicky Prasetyo.

Kini, citra itu berbalik. Selain berurusan dengan proses hukum, Dwi yang juga mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada harus menerima sanksi akademik berupa penonaktifan sementara.

Rumah megahnya di Bogor lebih sering terlihat sepi dan tertutup rapat. Hunian yang dulu tampak sebagai simbol keberhasilan, kini menjadi penanda kontras: kemegahan yang berdiri tegak, tapi pemiliknya tengah tersandung kasus berat.