Tag Archives: crazy rich Rimbo Bujang

Dwi Hartono Bimbel Apa? Dari “Smart Solution”, Guruku, hingga Dugaan Otak Pembunuhan

BAHAR POS — Nama Dwi Hartono menjadi pusat perhatian publik menyusul kasus pembunuhan Kepala Kantor Cabang Bank di Jakarta. Terbaru, warganet ramai-ramai bertanya, “Dwi Hartono bimbel apa?”

Sejak ditangkap aparat kepolisian pada 23 Agustus lalu, nama terduga otak pembunuhan ini memang kerap disebut-sebut sebagai pengusaha bimbel online. Namun tidak disebutkan jelas apa nama bimbel yang dijalankannya.

Penelusuran mengungkap bahwa Dwi Hartono mempunyai aplikasi bimbel online bernama Guruku. Logo aplikasi ini dalam ukuran besar bahkan terpajang di kediamannya di Kluster San Fransisco, Kompleks Kota Wisata Cibubur.

Guruku dijalankan Dwi Hartono lewat PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia. Namun jika melongok informasi mengenai aplikasi ini yang tertera di Google PlayStore, rasa-rasanya bukan Guruku yang pantas membuatnya disebut sebagai pengusaha bimbel.

Soalnya, aplikasi Guruku baru diunduh oleh seribuan pengguna Android. Angka pastinya tidak diketahui, hanya tertera keterangan “1,000+ downloads” pada halaman rincian aplikasi.

Ini jumlah yang kecil untuk sebuah aplikasi Android. Tak heran jika PlayStore melabeli Guruku sebagai beta project, sebagaimana terlihat dari banner ajakan untuk menjadi pengguna awal.

Jumlah pengguna Guruku bisa jadi malah lebih rendah dari angka total pengunduhnya, sebab hanya ada 11 ulasan yang masuk. Padahal halaman sama juga mencantumkan jika aplikasi tersebut dirilis pada 9 Agustus 2023. Artinya, telah eksis selama setidaknya dua tahun.

Memang tidak ada rasio ideal yang pasti antara jumlah ulasan pengguna dengan jumlah unduhan. Namun rasio yang lebih tinggi, misalnya 1:100 atau 1 review untuk setiap 100 unduhan, menunjukkan jika sebuah aplikasi memiliki pengguna aktif dan hidup.

Smart Solution

Penelusuran lebih jauh membawa kita pada sebuah kasus lama di Semarang pada 2012. Kala itu Dwi berhadapan dengan perkara hukum berkaitan dengan bisnis bimbel miliknya, Smart Solution.

Smart Solution dikelola Dwi bersama sejumlah rekan. Tak sekadar menawarkan bimbingan belajar, bisnis tersebut diduga menawarkan jalur belakang masuk perguruan tinggi, termasuk layanan memalsukan ijazah dan menyediakan “joki” masuk kampus tertentu.

Imbalan yang diminta Smart Solution tidak main-main, dikabarkan mencapai Rp 100–500 juta tergantung jurusan dan kampus tujuan. Dalam praktiknya, lembaga ini dapat meng-upgrade lulusan IPS menjadi IPA demi mempermudah penerimaan di universitas.

Praktik curang ini terbongkar pada 2012, saat Polrestabes Semarang menangkap Dwi atas kasus pemalsuan dokumen. Ia dijerat karena memalsukan rapor dan ijazah mahasiswa — termasuk menjadikan Smart Solution sebagai jalur licin agar siswa bisa masuk ke salah satu universitas swasta terkemuka di ibukota Jawa Tengah itu.

“Melalui bimbelnya, dia bisa mengubah ijazah IPS menjadi IPA. Bahkan ada paket masuk universitas dengan biaya ratusan juta rupiah,” terang Kapolrestabes Semarang kala itu, Kombes Pol. Elan Subilan.

Perbuatan Dwi terbongkar usai polisi menerima kiriman surat kaleng. Isinya daftar nama dan metode operasi dalam praktik curang tersebut.

Polrestabes Semarang lantas melakukan penyelidikan. Hasilnya, Dwi tak hanya memalsukan dokumen, tapi juga menyediakan jasa joki tes masuk universitas. Sebuah cara yang tidak terpuji untuk menembus kampus idaman.

Saat kasus Smart Solution mencuat, pihak kampus yang disebut-sebut menjadi target utama Dwi sempat berupaya mencabut laporan. Akan tetapi pihak kepolisian terus melanjutkan penyidikan karena perbuatan pelaku termasuk tindak pidana murni.

Putusan pengadilan saat itu menjerat Dwi Hartono dengan hukuman penjara selama 6 bulan.

Kini, nama Dwi kembali menjadi sorotan. Namun bukan lagi karena bimbel, melainkan dugaan menjadi otak penculikan yang berujung pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakarta Pisat, Mohamad Ilham Pradipta.

Pihak kepolisian masih terus menyelidiki kasus ini. Namun setidaknya kini publik telah mendapat jawaban atas pertanyaan: bimbel apa yang dijalankan Dwi Hartono?

Ringkasan Fakta

FaktaKeterangan
Bimbel Dikelola DwiSmart Solution, aktif sekitar 2012
Modus KejahatanJoki masuk kampus, pemalsuan dokumen, termasuk mengubah IPS ke IPA
Biaya LayananRp 100 juta hingga Rp 500 juta, tergantung layanan
Akibat HukumVonis penjara 6 bulan oleh PN Semarang
Konteks Saat IniKini Dwi diduga sebagai aktor intelektual dalam kasus pembunuhan Kacab Bank

UGM Nonaktifkan Status Mahasiswa Dwi Hartono buntut Kasus Pembunuhan Kepala Cabang BRI

BAHAR POS – Satu lagi fakta baru terkait Dwi Hartono terkuak. Ia ternyata tengah menempuh pendidikan pascasarjana di Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada kampus Jakarta.

Fakta ini bukan hal baru bagi follower akun media sosial Dwi. Dalam salah satu unggahan di Instagram @klanhartono sekitar awal tahun ini, ia membeberkan sendiri jika tengah kuliah S2 dengan mengambil jurusan MBA di UGM.

“Banyak yang menanyakan, kenapa saya mengambil MBA di UGM. Setelah saya searching, ternyata MBA UGM adalah program MBA pertama yang terakreditasi secara internasional dan di tingkat Asia rangking 25,” jelas Dwi Hartono kala itu.

Dalam unggahan tersebut, Dwi mengenakan t-shirt bertuliskan “MBA UGM” berwarna merah.

Menyusul penangkapan Dwi sebagai terduga otak penculikan yang berujung kematian Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Mohamad Ilham Pradipta (37), UGM merespons dengan menonaktifkan pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, tersebut.

“Yang bersangkutan telah dinonaktifkan dari seluruh kegiatan akademik Semester Gasal 2025/2026 sebagai bentuk dukungan UGM terhadap proses hukum dan penyelidikan yang tengah berlangsung,” kata Juru Bicara UGM I Made Andi Arsana dalam keterangan resminya di Yogyakarta, Rabu (27/8/2025), sebagaimana dikutip Antara.

Andi Arsana menjelaskan Dwi Hartono tercatat sebagai mahasiswa baru Semester 1 Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM kampus Jakarta. Menurutnya, keputusan penonaktifan ini ditetapkan melalui surat resmi yang diteken oleh Dekan FEB UGM Prof. Dr. Didi Achjari.

“UGM menghormati sepenuhnya proses hukum yang berjalan, menjunjung asas praduga tak bersalah, dan berkomitmen menjaga integritas serta profesionalisme,” lanjut Andi Arsana.

Lebih lanjut, Andi Arsana menyampaikan ucapan belasungkawa mendalam atas kematian Mohammad Ilham Pradipta. UGM selaku institusi pendidikan juga mengecam keras segala bentuk kekerasan.

“Kami berharap keadilan dapat terwujud bagi semua pihak,” tutup Andi Arsana.

Melongok Rumah Megah Dwi Hartono, Crazy Rich Rimbo Bujang Terduga Dalang Penculikan-Pembunuhan Kepala Cabang BRI

BAHAR POS – Dua rumah mewah berdampingan di kawasan elit Kota Wisata, Gunung Putri, Bogor, dipastikan bakal langsung mencuri perhatian siapapun yang melihat. Terlebih jika tahu sosok pemiliknya yang kini tengah terjerat kasus berat.

Dua rumah tersebut milik Dwi Hartono, sosok yang disebut-sebut sebagai pengusaha berbagai bidang. Kepemilikan sepasang properti tersebut seakan menjadi bukti kesuksesan pria tersebut di dunia bisnis.

Kedua unit milik Dwi terletak di jalan utama dalam Kluster San Francisco. Masing-masing berdiri di atas lahan seluas 495 meter persegi, sehingga total hampir 1.000 meter persegi.

Menilik informasi dari laman resmi pertanahan (bhumi.atrbpn.go.id), kedua tanah berstatus hak milik. Sedangkan estimasi harga tanah di kawasan tersebut berada di rentang Rp 5 juta–10 juta per meter persegi.

Sedikit bermatematika, nilai tanahnya saja bisa mencapai setidak-tidaknya Rp5 miliar. Belum lagi jika ditambah dengan bangunan megah di atasnya.

Dalam sebuah video di kanal YouTube-nya, Klan Hartono, Dwi menceritakan jika dirinya sempat jatuh bangkrut dan terlilis utang miliaran. Namun ia mampu bangkit, sampai akhirnya bisa membeli rumah seharga Rp5 miliar.

Tidak dijelaskan rumah mana yang dibeli Dwi kala itu. Apakah dua hunian mewah di Kluster San Fransisco, Kompleks Kota Wisata ini?

Rumah Sekaligus Kantor

Dari luar, hunian ini benar-benar menghadirkan kesan megah dan mapan. Kedua rumah dicat putih-hitam berpadu dengan genteng kecokelatan, ditambah pagar emas yang berkilau di bawah sinar matahari. Taman depan dihiasi tanaman hias, lengkap dengan pohon palem merah yang menjulang.

Detail rumah juga memperlihatkan jejak aktivitas pemiliknya. Unit bernomor Q1/8 menampilkan logo “GURUKU” di balkon, yang mengingatkan pada aplikasi bimbingan belajar online di bawah naungan PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia milik Dwi.

Di garasi, terdapat tulisan “WD Fashion”, menunjukkan kiprah usahanya di bidang lain. WD besar kemungkinan diambil dari nama belakang istri Dwi, yakni Wulandari.

Sementara rumah bernomor Q1/9 memiliki carport berkanopi dan lima pilar besar yang menjulang dari lantai dasar ke lantai dua—sebuah gaya arsitektur yang menambah wibawa bangunan. Tak seperti rumah di sebelahnya, tak ada logo maupun penanda apapun di sini.

Namun, keindahan hunian mewah tersebut kini terasa ironis. Di balik megahnya fasad, pemilik rumah justru tengah menghadapi sorotan publik.

Dwi Hartono diduga menjadi otak kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Mohamad Ilham Pradipta (37). Namanya kian ramai dibicarakan, tak hanya karena kasus, tapi juga karena gaya hidup dan jejak sosialnya.

Polda Metro Jaya telah menangkap pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, tersebut pada 23 Agustus lalu. Ketika itu Dwi berada dalam satu mobil bersama dua rekannya, YJ dan AA, yang tengah melaju di Jl. Solo-Jogja.

Crazy Rich Rimbo Bujang

Di kampung halamannya, Desa Mekar Kencana, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi, Dwi sebelumnya dikenal sebagai motivator dan pengusaha muda yang dermawan. Berbagai aksinya membuat pria ini dijuluki Crazy Rich Rimbo Bujang.

Warga setempat masih ingat bagaimana Dwi pernah membantu menyediakan ambulans untuk desa. Juga momen ketika ia pulang kampung dengan helikopter yang tentu saja membuat heboh.

Dwi juga pernah mendatangkan penyanyi dangdut top Via Vallen sebagai hiburan di acara khitanan puteranya pada 2018 lalu. Itu adalah masa-masa di mana Via tengah naik daun, sehingga bisa dipastikan honornya juga tengah tinggi-tingginya.

Terbaru, ia sempat mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati Pemalang ke DPC Partai Kebangkitan Bangsa setempat. Namun namanya tak lolos saringan internal partai yang lebih memilih mengusung pesohor Vicky Prasetyo.

Kini, citra itu berbalik. Selain berurusan dengan proses hukum, Dwi yang juga mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada harus menerima sanksi akademik berupa penonaktifan sementara.

Rumah megahnya di Bogor lebih sering terlihat sepi dan tertutup rapat. Hunian yang dulu tampak sebagai simbol keberhasilan, kini menjadi penanda kontras: kemegahan yang berdiri tegak, tapi pemiliknya tengah tersandung kasus berat.

Update Kasus Pembunuhan Kepala Cabang BRI, Polisi Tangkap 9 Tersangka Baru

BAHAR POS – Kepolisian terus mengusut kasus pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Mohamad Ilham Pradipta (37). Perkembangan terbaru, Polda Metro Jaya kembali menangkap 9 tersangka lain sehingga total pelaku menjadi 15 orang.

“Ada 15 orang yang diamankan,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, dalam keterangannya di Mapolda Metro Jaya, Selasa (26/8/2025).

Ade Ary menambahkan, ada tambahan 9 pelaku baru yang dibekuk Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Dengan 6 tersangka lain yang telah lebih dulu diciduk Subdit Reserse Mobile Ditreskrimum Polda Metro Jaya, total tersangka dalam kasus ini berjumlah 15 orang.

Ia menegaskan, pihak kepolisian menjalankan pengusutan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian. Semua tersangka ditangkap karena namanya keluar dari keterangan pelaku yang terlebih dahulu diamankan.

“Pemeriksaan itu dilakukan secara hati-hati, mendalam, menunjukkan barang bukti, mencocokkan setelah orang yang diamankan. Si A, misalkan, dicocokkan dengan keterangannya B, dicocokkan dengan keterangan C, dan lain sebagainya,” jelas Ade Ary.

Hingga kini Polda Metro Jaya terus mendalami peran ke-15 orang tersebut dalam kasus pembunuhan Muhammad Ilham Pradipta.`Ade Ary meminta publik bersabar karena proses penyidikan membutuhkan waktu.

“Peran masing-masing masih didalami, dipastikan secara pasti, sehingga nanti bisa disimpulkan dari 15 ini perannya masing-masing apa? Berapa orang yang ditetapkan sebagai tersangka? Atau kemungkinan lainnya bagaimana? Ini masih dikembangkan,” lanjut Ade Ary.

“Proses pemeriksaan membutuhkan waktu. Kami mohon bersabar,” imbuhnya, seraya menegaskan bahwa pihaknya bergerak hati-hati dan proporsional. Karena itu, identitas, peran, serta motif masing-masing pelaku belum bisa diungkap.

Libatkan Crazy Rich Rimbo Bujang

Mohamad Ilham Pradipta diculik sekelompok pria seusai mengikuti meeting di bilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (20/8/2025) sore WIB. Keesokan paginya, sekitar pukul 05.30 WIB, ia ditemukan tewas di area persawahan dekat Kampung Karangsambung, Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Pihak kepolisian bergerak cepat dan langsung menangkap tiga tersangka penculikan pada hari sama, yakni berinisial AT, RS dan RAH yang ditangkap di Johar Baru, Jakarta Pusat. Lalu menyusul pelaku berinisial RW yang dibekuk aparat Satreskim Polres Manggarai Barat di bandara Nusa Tenggara Timur (NTT).

Setelah itu tiga pelaku lain diringkus di Jl. Solo-Jogja, Surakarta, Jawa Tengah, pada Sabtu (23/8/2025) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Ketiganya adalah DH, YJ dan AA.

Satu orang lagi, yakni berinisial C, ditangkap di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, pada Ahad (24/8/2025), pukul 15.30 WIB. Bersama AA, DH, dan YJ, ia disebut-sebut sebagai aktor intelektual penculikan yang berujung kematian ini.

Belakangan diketahui jika tersangka berisinial DH adalah Dwi Hartono, seorang pengusaha muda yang berasal dari Desa Mekar Kencana (Unit VI), Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi.

Dwi Hartono selama ini dikenal sebagai crazy rich Rimbo Bujang karena gaya hidupnya yang glamor, serta deretan aksi flexing di akun media sosial pribadinya. Ia, misalnya, pernah memamerkan setumpuk gepokan uang pecahan Rp100.000 di akun Instagram @klanhartono.

Pada 2018, Dwi pernah mengundang penyanyi dangdut yang tengah naik daun, Via Vallen, dalam acara khitanan puteranya. Lalu ia juga mendatangkan Wika Salim dan Ustadz Zaky Mirza di acara reuni akbar sebuah SMP di Tebo.

Menelisik Aplikasi Bimbel Online Guruku Milik Dwi Hartono, Terduga Dalang Pembunuhan Kepala Cabang BRI

BAHAR POS – Dwi Hartono ditengarai menjadi dalang pembunuhan Kepala Cabang BRI Mohamad Ilham Pradipta di Jakarta. Menarik untuk menelisik deretan bisnis pria yang di tempat asalnya dijuluki Crazy Rich Rimbo Bujang tersebut.

Nama Dwi Hartono pertama kali dikaitkan dengan kasus ini selepas penangkapan tiga tersangka di Surakarta, Jawa Tengah, pada 23 Agustus 2025. Saat itu pihak kepolisian menyebutkan ketiganya berinisial AA, DH, dan YJ.

Warganet bergerak cepat, sehingga kemudian diketahuilah jika pelaku berinisial DH tak lain Dwi Hartono. Sosok yang punya nama harum di Kabupaten Tebo, Jambi. Khususnya di Desa Mekar Kencana, Kecamatan Rimbo Bujang.

Dalam media sosial pribadinya, Dwi Hartono mencitrakan dirinya sebagai seorang pengusaha muda sukses. Dalam seminar-seminar, ia memperkenalkan diri sebagai pengusaha dan investor properti yang menjadi miliarder sebelum berusia 30 tahun.

Dalam sebuah video di kanal YouTube Klan Hartono bertanggal 3 Desember 2019, Dwi menyebutkan ia adalah CEO PT Einstein Gempita Dunia (EGD), CEO PT Hartono Mandiri Makmur (HMM), CEO Hartono Group, serta Ketua Hartono Foundation.

Ketika kasus pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta mencuat, terkuak satu perusahaan lain yang dimiliki Dwi. Namanya PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia (DAI) yang mengoperasikan aplikasi bimbingan belajar online dengan jenama Guruku.

Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Ade Ary Syam Indradi, ketika ditanyai media.

“Benar, DH adalah seorang pengusaha bimbel online,” kata Ade Ary, seperti dikutip detikcom, Selasa (26/8/2025).

Temuan ini lantas membuat media ramai-ramai memprofilkan Dwi Hartono sebagai pengusaha bimbel online. Terlebih, di bagian depan kediamannya di kawasan perumahan elite Kota Wisata Cibubur, terdapat logo Guruku dalam ukuran besar.

Baru Diunduh 1.000 Pengguna

Saat melakukan penelurusan ke Google PlayStore, halaman informasi Guruku berisi klaim sebagai “The best learning application in Indonesia”. Lalu di bawahnya ada kalimat yang menyebutkan aplikasi belajar ini “bukan hanya memfasilitasi materi belajar untuk anak sekolah saja namun sangat komplit”.

Halaman tersebut juga merincikan materi belajar yang meliputi jenjang PAUD hingga perguruan tinggi. Bahkan ada pula materi ilmu investasi dan trading saham, materi kecerdasan keuangan atau financial revolution, materi ilmu bagaimana memulai awal berbisnis, hingga materi ilmu bagaimana prinsip umum dalam manajemen bisnis.

Menariknya, aplikasi Guruku baru diunduh oleh seribuan pengguna Android. Angka pastinya tidak diketahui, hanya tertera keterangan “1,000+ downloads” pada halaman rincian aplikasi.

Ini jumlah yang kecil untuk sebuah aplikasi Android. Tak heran jika PlayStore melabeli Guruku sebagai beta project, sebagaimana terlihat dari banner ajakan untuk menjadi pengguna awal.

Jumlah pengguna Guruku bisa jadi malah lebih rendah dari angka total pengunduhnya, sebab hanya ada 11 ulasan yang masuk. Padahal halaman sama juga mencantumkan jika aplikasi tersebut dirilis pada 9 Agustus 2023. Artinya, telah eksis selama setidaknya dua tahun.

Memang tidak ada rasio ideal yang pasti antara jumlah ulasan pengguna dengan jumlah unduhan. Namun rasio yang lebih tinggi, misalnya 1:100 atau 1 review untuk setiap 100 unduhan, menunjukkan jika sebuah aplikasi memiliki pengguna aktif dan hidup.

Sayang, saat hendak mengecek informasi mengenai perusahaan-perusahaan milik Dwi Hartono, terutama PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia yang menjadi payung Guruku, laman resmi Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum terus-terusan menampilkan pesan error.

Kasus Dwi Hartono dan ‘Tradisi’ Flexing Gaya Hidup Mewah Pebisnis Muda

PENANGKAPAN Dwi Hartono sepertinya masih sulit dipercayai masyarakat Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi. Namun menarik untuk coba mengurai hubung-kait antara citranya sebagai crazy rich dan kasus pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI yang menjeratnya.

Dwi diringkus aparat kepolisian di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu (23/8/2025) lalu. Ia ditangkap bersama dua tersangka lain dalam perkara dugaan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Penangkapan ini dikonfirmasi oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi. Bersama tiga tersangka lain, Dwi kini menjalani pemeriksaan intensif di Polda Metro Jaya.

Kasus ini menjadi sorotan publik, bukan hanya karena korbannya adalah pejabat perbankan BUMN, tetapi juga karena sosok tersangka yang disinyalir menjadi otak. Dwi selama ini dikenal masyarakat Jambi, khususnya warga Tebo, sebagai crazy rich Rimbo Bujang nan dermawan.

Sosok Flamboyan dan Dermawan

Sejak lama, Dwi Hartono dikenal flamboyan. Media lokal seperti Tribun Jambi dan Jambi Ekspres menulis sejumlah momen mencolok yang menegaskan citranya sebagai sosok glamor.

Tak berhenti hanya di penampilannya yang perlente khas orang metropolitan, Dwi juga beberapa kali menunjukkan diri sebagai sosok dengan kemampuan finansial tak terbatas. Septermber 2021, ia terdokumentasi tengah menjajal helikopter di tengah kabar jika dirinya ingin membeli satu untuk operasionalnya.

Di kampung halamannya, Dwi kerap mendatangkan artis nasional untuk meramaikan acara-acara di Tebo. Ia pernah menampilkan Wika Salim dalam reuni akbar sekolah menengah tempatnya dulu belajar.

Nama kondang lain yang didatangkan Dwi adalah pedangdut Via Vallen dan Ustadz Zaky Mirza. Kehadiran artis dan tokoh terkenal ini tak cuma membuat setiap acara menjadi pusat perhatian media lokal maupun nasional, tetapi juga kian menaikkan citra diri Dwi.

Tidak hanya panggung hiburan, Dwi juga memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan mobil-mobil mewah, helikopter, dan berbagai aktivitas glamor lainnya. Rumah mewahnya di kawasan Kota Wisata, Cibubur, yang menjadi saksi gaya hidupnya, sempat ramai diperbincangkan tetangga, meski belakangan terlihat sepi usai kasusnya merebak.

Selain glamor, Dwi juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial. Ia mendirikan Hartono Foundation, yayasan yang menyalurkan beasiswa bagi pelajar kurang mampu di Kabupaten Tebo.

“Di sini, dia dikenal dermawan. Sering membantu warga, terutama anak sekolah. Jadi kami kaget mendengar kabar dia ditangkap polisi karena kasus berat ini,” kata Joko, Kepala Desa Tirta Kencana, Rimbo Bujang, sebagaimana dikutip Tribun Jambi (25/8/2025).

Sebagai informasi, kawasan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) VI Rimbo Bujang telah dipecah menjadi dua desa, yakni Tirta Kencana dan Mekar Kencana. Adapun orangtua Dwi Hartono tinggal di wilayah yang kemudian masuk Mekar Kencana.

Kontras antara citra dermawan dan tuduhan sebagai otak pembunuhan inilah yang membuat masyarakat Rimbo Bujang terkejut. Sebagian menolak percaya, sementara sebagian lain memilih menunggu proses hukum berjalan.

Namun di sini pulalah ada satu titik yang menarik untuk dikupas lebih dalam. Apakah pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih ada kaitannya dengan gaya hidup berbiaya tinggi yang biasa ditampilkan Dwi Hartono?

Flexing: Kilau Kemewahan nan Memikat

Gaya hidup mewah Dwi Hartono menjadi contoh nyata fenomena flexing, yaitu menampilkan kekayaan secara mencolok sebagai simbol status sosial. Mengundang artis terkenal, pesta jor-joran, kendaraan pribadi mewah, hingga media sosial yang dipenuhi foto glamor, semuanya memperkuat citra flamboyan yang sulit diabaikan.

Fenomena flexing tidak hanya terjadi di kota besar; di daerah dengan ekonomi menengah, visual kemewahan bisa menjadi magnet perhatian. Flexing mempengaruhi persepsi masyarakat, memunculkan rasa kagum, dan terkadang aspirasi untuk mengikuti gaya hidup serupa.

Di sisi lain, flexing menuntut pengeluaran tinggi. Bahkan mungkin masuk kategori amat sangat tinggi.

Menjaga citra flamboyan berarti arus kas harus lancar. Aktivitas jor-joran, penyelenggaraan pesta besar, dan pemeliharaan aset mewah membutuhkan biaya besar yang konsisten. Jika tidak diimbangi manajemen finansial yang cermat, gaya hidup ini dapat menjadi tekanan tersendiri.

Di sinilah lubang besar nan dalam kerap menjerat para pelaku flexing. Jebakannya adalah ketika arus pemasukan tidak mampu lagi menopang gaya hidup yang ingin dipertahankan,dan ditampilkan.

Itulah kenapa sejumlah pengamat keuangan menekankan pentingnya menyeimbangkan antara citra dan realitas finansial. Visual glamor tidak selalu mencerminkan stabilitas usaha atau integritas. Justru terkadang terjadi sebaliknya, apa yang ditampilkan justru untuk menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam kebanyakan kasus yang sudah terjadi, para pelaku flexing berujung pada terungkapnya kasus kriminal yang menjerat mereka. Mulai dari penipuan, penggelapan, hingga penganiayaan berat yang membuat korbannya meninggal dunia.

Tanpa mengabaikan praduga tak bersalah, Dwi Hartono bisa masuk dalam daftar panjang ini.

Risiko Tinggi

Ramainya pelaku flexing terjerat kasus hukum tentu menimbulkan pertanyaan: bagaimana bisa? Bukankah mereka sosok-sosok sukses secara finansial yang seharusnya tinggal menikmati hidup?

Jawabannya sudah disinggung tadi: visual glamor tidak selalu mencerminkan stabilitas usaha atau integritas seseorang. Justru terkadang yang terjadi sebaliknya, apa yang ditampilkan justru untuk menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi.

Ekonomi perayaan seperti yang ditunjukkan Dwi Hartono dan pelaku flexing lain menuntut arus kas (cashflow) yang stabil. Bila arus kas terguncang—karena proyek seret, piutang macet, atau biaya promosi menumpuk—risiko friksi bisnis meningkat.

Dalam kasus Dwi, laporan-laporan media yang menyebut keterlibatan figur debt collector dalam klaster inisiator—meski belum final—membuat spektrum konflik finansial patut diperhatikan lebih dalam. Terlebih korbannya adalah seorang kepala cabang pembantu sebuah bank.

Di hulu, BRI sebagai institusi perbankan beroperasi dengan tekanan pengelolaan kredit: target ekspansi, pembinaan, dan penagihan. Perjumpaan antara target bank, debitur, pihak ketiga penagihan, dan jejaring bisnis informal kerap melahirkan garis abu-abu.

Karena itu, klarifikasi apa relasi Dwi dengan jaringan penagihan—jika ada—serta apakah ada sengketa bisnis/perbankan dengan korban menjadi titik krusial untuk mengungkap motif.

Oya, penting digarisbawahi bahwa status Dwi masih tersangka. Asas praduga tak bersalah berlaku sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap dari pengadilan.

Terlepas dari itu, kasus ini memunculkan refleksi sosial: gaya hidup glamor yang dipamerkan di media sosial atau kampung halaman bukanlah tolok ukur keberhasilan maupun integritas. Kejadian yang menimpa Dwi Hartono menjadi pengingat agar masyarakat, khususnya generasi muda, jangan terlalu mudah terpesona oleh kemewahan yang ditampilkan di permukaan.

Yang lebih penting lagi, cerita Dwi juga menjadi pelajaran tentang kewaspadaan finansial dan manajemen gaya hidup. Menjadi flamboyan boleh saja, tapi tetap harus memperhatikan kapasitas ekonomi nyata. Kesuksesan yang ditampilkan melalui flexing seharusnya dibarengi dengan stabilitas finansial dan perencanaan jangka panjang, bukan semata demi mengejar simbol status.

Kasus Dwi Hartono bisa kita jadikan pengingat bahwa kehidupan glamor bisa memukau, tetapi manajemen finansial, integritas, dan perilaku bertanggung jawab tetap menjadi fondasi kesuksesan yang sejati. Jadi, bijaklah menilai kemewahan yang terlihat, jangan terlalu mudah terpesona, dan selalu utamakan keseimbangan hidup dan keuangan.

Sebagai seorang jawa, Dwi Hartono mungkin lupa pada dua kata bijak leluhur: 1) Nrima ing pandum (ikhlas menerima apa yang diberikan Gusti Kang Maha Agung), dan 2) Urip iku sawang-sinawang (setiap orang memiliki suka-dukanya sendiri.)

Dua Sisi Dwi Hartono, “Crazy Rich” Rimbo Bujang Tersangka Otak Pembunuhan Kacab BRI di Jakarta

BAHAR POS – Rasanya tak ada yang menduga jika kasus pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta (MIP) nun jauh di Jakarta memiliki kaitan dengan sebuah daerah perkebunan karet di tengah-tengah Jambi. Terlebih yang terkait adalah satu sosok yang selama ini dikenal sebagai seorang crazy rich nan dermawan.

Sebagaimana ramai diberitakan media nasional beberapa hari terakhir, MIP diculik beberapa orang di area parkir Kantor Pusat PT Lotte Mart Indonesia di Ciracas, Jakarta Timur, pada Rabu (20/8/2025) siang. Keesokan harinya, Kepala Cabang Pembantu (KCP) BRI Cempaka Putih itu ditemukan tewas dengan kedua tangan dan kaki terikat, sedangkan mata terlilit lakban.

Kepolisian bergerak cepat dan berhasil menangkap para pelaku penculikan. Tiga pelaku dibekuk di Jakarta, sedangkan satu lagi di bandara Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Inisial AT, RS, RAH ditangkap di Jalan Johar Baru III No. 42, Jakarta Pusat, sementara inisial RW ditangkap saat tiba di bandara NTT untuk melarikan diri,” kata Kasubdit Reserse Mobile Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Resa Fiardi Marasabessy dalam keterangannya, Kamis (21/8/2025) lalu, seperti dikutip Tempo.co.

Dua hari berselang, Kepolisian kembali melakukan penangkapan terhadap empat pelaku yang diduga menjadi otak kejahatan tersebut. Tiga orang diringkus di Solo, Jawa Tengah, sedangkan yang seorang lagi ditangkap di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

“Empat orang aktor intelektual pelaku penculikan dan atau pembunuhan kepala cabang BRI,” kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Abdul Rahim dalam keterangannya, Ahad (24/8/2025). 

“Pelaku berinisial DH, YJ dan AA ditangkap Sabtu, tanggal 23 Agustus 2025, pukul 20.15 WIB, di daerah Solo, Jawa Tengah,” lanjut Abdul Rahim.

Sehari berikutnya, polisi menangkap tersangka C di PIK pada sekitar pukul 15.30 WIB.

Anak Trans Panutan

Pelaku berinisial DH inilah yang kemudian mengagetkan warga Jambi. Pasalnya, kemudian diketahui jika itu adalah inisial dari Dwi Hartono, seorang crazy rich asal Desa Mekar Kencana (Unit 6), Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo.

Bagi warga Rimbo Bujang, kabar penangkapan Dwi bak petir di siang bolong. Tak ada yang menyangka, sebab lelaki berusia 35 tahun itu selama ini dikenal sebagai sosok flamboyan yang menonjol di kampung halamannya.

Julukan “crazy rich Rimbo Bujang” melekat pada Dwi karena gaya hidupnya yang mewah. Ia beberapa kali terlihat bepergian dengan helikopter, sesuatu yang jarang terjadi di sebuah kecamatan perkebunan di pedalaman Jambi.

Dwi juga dikenal kerap mengundang artis ibukota untuk hadir dalam hajatan atau acara besar di Tebo. Ia pernah menanggap penyanyi dangdut Via Vallen dalam sebuah acara.

Lalu Dwi pernah pula mengundang Wika Salim dalam acara ulang tahun sekolah di mana dulu ia pernah menjadi peserta didik. Begitu juga penceramah nasional Ustad Zaky Mirza.

Keberhasilannya mengundang nama-nama tenar tadi membuat Dwi kian populer di Rimbo Bujang. Bukan saja sebagai pengusaha sukses, tetapi juga sebagai figur yang gemar menampilkan sesuatu yang berbeda.

Meski kesan flamboyan lekat padanya, tetapi Dwi tidak menjaga jarak dari masyarakat. Di mata sebagian warga, Dwi justru dikenal sebagai sosok dermawan.

Dwi tercatat sering memberi bantuan sosial, baik untuk kegiatan desa maupun anak-anak sekolah yang membutuhkan dukungan. Belum lama ia memberi beasiswa pada seorang korban pemerkosaan yang sempat viral.

Kepala Desa Tirta Kencana yang mengenal baik keluarga Dwi Hartono menyebutkan, selama ini pria itu dipandang sebagai “anak muda berhasil” yang menjadi kebanggaan dan panutan anak muda Tebo.

“Dia sering bantu warga, terutama anak-anak yang kesulitan biaya sekolah. Makanya kami sangat kaget dengar kabar penangkapan ini. Tidak pernah terbayang,” ujar Joko, Kepala Desa Tirta Kencana, seperti dikutip Tribun Jambi (25/8/2025).

Jejak Usaha dan Keluarga

Dwi lahir dari keluarga yang memang sudah akrab dengan dunia usaha. Orang tuanya memiliki swalayan dan kebun karet yang terhitung luas di Rimbo Bujang. Cakupan usaha keluarganya terhitung besar di kawasan Tebo.

Berangkat dari sana, Dwi disebut-sebut melanjutkan bisnis keluarga sekaligus merintis usaha lain. Di Jakarta, ia tercatat membangun beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan aplikasi pendidikan digital dan trading.

Salah satu perusahaan Dwi adalah PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia (DAI), yang mengoperasikan platform Guruku. Berkat strategi membership fee murah, Guruku sukses menyeruak dalam persaingan dengan jenama lain yang lebih mapan.

Gambaran kesuksesan Dwi dapat terlihat dari kepemilikan rumah di kompleks mewah Perumahan Kota Wisata Cibubur. Beredar kabar jika ia setidaknya mempunyai dua properti di sana, yakni di Jalan San Fransisco Blok Q1 No. 8 dan 9.

Ditambah dengan seringnya ia mengundang artis-artis nasional ke Rimbo Bujang, reputasi Dwi sebagai pengusaha muda sukses cepat melejit. Apalagi dengan gaya hidupnya yang kerap menjadi buah bibir warga.

Semua ini membuat Dwi kerap diminta tampil sebagai motivator dalam seminar-seminar bisnis. Ia juga punya kanal YouTube yang berisi konten-konten motivasi bisnis.

Entah kaitan apa yang kemudian menyebabkan Dwi terlibat dalam pembunuhan MIP, Kepala Cabang Pembantu BRI di Cempaka Putih, Jakarta. Publik Tebo, khususnya warga Rimbo Bujang, rasa-rasanya akan terus mengikuti perkembangan kasus ini untuk mendapatkan jawaban.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi, menyatakan Dwi berperan sebagai pengendali dalam aksi yang merenggut nyawa MIP. Ia kini tengah diperiksa intensif bersama tiga orang lain yang juga ditangkap.

“Penyelidikan masih berjalan. Rangkaian peristiwa dan peran masing-masing tersangka akan segera kami sampaikan,” kata Hengki.

Dua Sisi

Kasus ini sekaligus membuka diskusi soal wajah ekonomi di daerah. Rimbo Bujang, yang dulunya adalah lokasi transmigrasi, pada umumnya bertumpu pada perkebunan karet dan sawit.

Sosok seperti Dwi Hartono menjadi langka: anak muda lokal yang mampu menembus kelas menengah atas di perantauan. Ia adalah contoh anak trans yang sukses di luar daerah. Itu sebabnya, masyarakat sekitar begitu cepat mengagungkan namanya.

Kini, ketika nama Dwi tersangkut kasus hukum, kebanggaan itu mulai berubah jadi kegamangan. Mungkin ada yang merasa ikut tercoreng, sebab mau tidak mau nama Tebo dan khususnya Rimbo Bujang ikut terbawa dalam pusaran kasus ini.

Namun demikian perjalanan kasus ini masih panjang. Penyidikan polisi terhadap Dwi bahkan baru mulai berjalan.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai motif yang melatarbelakangi dugaan pembunuhan terhadap MIP, Kepala Cabang BRI Cempaka Putih.

Apa yang terjadi pada Dwi Hartono memperlihatkan betapa cepatnya citra publik bisa berubah. Dalam hitungan hari, sosok yang sebelumnya dielu-elukan sebagai “crazy rich Rimbo Bujang” kini menjadi nama yang dikaitkan dengan kejahatan serius. Dari ikon kesuksesan, ia berubah menjadi tersangka pembunuhan.

Kontras inilah yang membuat kasus ini menyedot perhatian. Bukan hanya soal korban yang merupakan pejabat bank BUMN, tetapi juga tentang siapa tersangkanya: seorang anak daerah yang sempat menjadi inspirasi, kini harus menghadapi jeratan hukum paling berat.

Masyarakat Tebo masih terbelah antara percaya dan tidak percaya. Namun, satu hal pasti: nama Dwi Hartono kini tercatat bukan lagi semata sebagai pengusaha flamboyan, melainkan juga sebagai figur kontroversial yang nasib hukumnya akan menentukan bagaimana ia dikenang di kampung halamannya.

Tebo Geger! Tersangka Otak Pembunuhan Kacab BRI di Jakarta Ternyata ‘Crazy Rich’ Rimbo Bujang

BAHAR POS – Salah satu tersangka otak pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI, Mohamad Ilham Pradipta (MIP, 37), di Jakarta ternyata crazy rich Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. Netizen Jambi pun geger.

Seperti yang menjadi sorotan media nasional dalam beberapa hari terakhir, MIP diculik beberapa pria di sebuah area parkir di kawasan Jakarta Timur, Rabu (20/8/2025) sore WIB. Keesokan harinya, korban ditemukan tewas oleh warga di Kampung Karangsambung, RT9 RW4, Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Polisi mengonfirmasi jika jasad yang ditemukan adalah MIP. Keadaan korban sangat mengenaskan, dengan kedua tangan dan kaki terikat, sedangkan mata terlilit lakban.

Tak sampai 24 jam, aparat kepolisian berhasil membekuk empat tersangka penculikan. Mereka diamankan di dua tempat berbeda; tiga pelaku berinisial AT, RS, dan RAH di Jl. Johar Baru III No. 42, Jakarta Pusat, sedangkan tersangka RW di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Sehari berselang, kepolisian kembali menangkap empat tersangka pelaku lain. Masing-masing berinisial AA, C, DH, dan YJ yang ditangkap di dua lokasi berlainan.

“Pelaku berinisial DH, YJ dan AA ditangkap Sabtu, tanggal 23 Agustus 2025, pukul 20.15 WIB, di daerah Solo, Jawa Tengah,” kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, Abdul Rahim dalam keterangannya, Ahad (24/8/2025).

Sementara pelaku berinisial C ditangkap keesokan harinya pada pukul 15.30 WIB di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

Polisi membedakan kedelapan pelaku dalam dua klaster. Empat tersangka sebelumnya, yakni AT, RAH, dan RS, masuk klaster eksekutor penculikan. Sedangkan AA, C, DH, dan YJ masuk klaster mastermind atau otak perencana kejahatan.

Salah satu pelaku dalam klaster otak alias dalang inilah yang menggegerkan netizen Jambi, khususnya warga Kabupaten Tebo. Terutama sekali penduduk Unit 6 (Desa Tirta Kencana dan Mekar Kencana), Kecamatan Rimbo Bujang.

Crazy Rich Doyan Flexing

Pelaku berinisial DH kemudian diketahui bernama lengkap Dwi Hartono. Sosok ini sejak lama dikenal sebagai crazy rich Rimbo Bujang dan menjadi role model anak muda setempat.

Nama Dwi Hartono terkenal karena media sosialnya dipenuhi aksi flexing alias pamer kekayaan. Dalam satu unggahan di akun Instagram-nya, @klanhartono, pada Januari lalu, ia memamerkan setumpuk gepokan uang berwarna merah dan biru.

Menilik pada tingginya tumpukan gepokan uang merah saja, yang dipamerkan Dwi dalam unggahan tersebut diperkirakan berjumlah miliaran rupiah. Meski caption-nya bernada memotivasi, sulit untuk tidak melihatnya sebagai tindakan pamer alias flexing.

Pada September 2021, Dwi mengunggah video dirinya tengah melakukan test ride helikopter. Narasi yang diberikan kala itu, lelaki kelahiran 6 Oktober 1985 tersebut hendak membeli helikopter.

Dwi juga kerap mengunggah momen ketika dirinya sedang mengendarai mobil mewah. Juga berlibur ke luar negeri, misalnya ketika mengunjungi jembatan kaca di Gunung Tianmen, di Taman Nasional Zhangjiajie, Provinsi Hunan, Tiongkok.

Di kampung halamannya, Dwi beberapa kali jadi pusat pemberitaan karena mendatangkan pesohor-pesohor asal ibukota. Ia, misalnya, pernah mengundang Via Vallen untuk menghibur warga Rimbo Bujang pada 5 Juli 2018.

Kedatangan Via Vallen di Lapangan Kolim Unit VI itu membuat geger lantaran acaranya ‘hanyalah’ sunatan. Dwi selaku pemilik hajatan tengah mengkhitan puteranya yang memiliki nama mirip si penyanyi, Valens.

Lalu Dwi juga pernah mengundang Wika Salim dan Ustadz Zaky Mirza dalam acara reuni akbar sekolah tempatnya dulu belajar pada 18 September 2022. Dalam kesempatan itu pula namanya kian harum sebagai pengusaha sukses asal Rimbo Bujang, Tebo.

Pengembang Aplikasi Pendidikan

Di perantauan, Dwi tercatat tinggal di kompleks Perumahan Kota Wisata Cibubur. Ia dikabarkan setidaknya mempunyai dua properti di sana, yakni di Cluster San Fransisco Blok Q1 No. 8 dan 9.

Melongok lokapasar penjualan rumah, harga satu unit dengan luas tanah 300 m² dan memiliki 4 kamar tidur di Cluster San Francisco berada di kisaran Rp3,9 miliar. Bagi warga Rimbo Bujang, angka tersebut setara dengan 4-5 kapling sawit seluas 8-10 hektar.

Salah satu rumah mewah tersebut difungsikan sebagai kantor PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia (DAI), perusahaan pengembang aplikasi pendidikan online dengan jenama Guruku. Dari pantauan di Google PlayStore, tercatat baru ada total seribuan pengunduh dengan rating 4.2 bintang dari 11 pengulas.

Dwi juga tercatat mempunyai PT Hartono Mandiri Makmur yang berfokus pada pengembangan perangkat lunak dan aplikasi digital. Guruku sangat boleh jadi dikembangkan oleh perusahaan ini, tetapi dioperasikan di bawah bendera PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia.

Pendek kata, Dwi Hartono diprofilkan sebagai seorang pengusaha muda sukses asal Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi. Semua ini membuat Dwi kerap diminta tampil sebagai motivator dalam seminar-seminar bisnis. Ia juga punya kanal YouTube yang berisi konten-konten motivasi bisnis.

Entah kaitan apa yang kemudian menyebabkan Dwi terlibat dalam pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta, Kepala Cabang Pembantu BRI di Cempaka Putih, Jakarta. Publik Tebo, khususnya warga Rimbo Bujang, rasa-rasanya akan terus mengikuti perkembangan kasus ini untuk mendapatkan jawaban.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi, menyatakan Dwi berperan sebagai pengendali dalam aksi yang merenggut nyawa MIP. Ia kini tengah diperiksa intensif bersama tiga orang lain yang juga ditangkap.

“Penyelidikan masih berjalan. Rangkaian peristiwa dan peran masing-masing tersangka akan segera kami sampaikan,” kata Hengki.