Tag Archives: Iwan Fals

Pengalaman Berkesan Pemuda Talang Datar Jadi Bagian Serunya Pestapora 2025 di Jakarta

BAHAR POS – Setelah memendam rasa penasaran selama bertahun-tahun, Fajar (30), seorang pemuda asal Desa Talang Datar, Kecamatan Bahar Utara, Muaro Jambi, nekat pergi ke Jakarta demi menjadi bagian dari serunya Pestapora 2025. Sebuah pengalaman spesial yang menghadirkan perasaan campur aduk dalam memorinya.

Bagi sebagian besar orang di Bahar, jauh-jauh pergi ke Jakarta hanya demi menonton konser musik itu hal sia-sia. Cuma menghabiskan uang, juga membuang-buang waktu. Belum lagi harus mengarungi jalanan rusak dan macet selama berjam-jam.

Namun tidak demikian bagi Fajar. Di matanya, menyaksikan Pestapora 2025 bukan sekadar perkara mencontreng satu impian dalam whislist. Ini adalah caranya untuk melihat dunia luar, merasakan pengalaman baru, serta mengambil pelajaran yang mungkin bisa diterapkan di kampung halaman.

Hari pertama menginjakkan kaki di Gambir Expo & Hall D2, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat–lokasi Pestapora 2025, Fajar langsung diberi pengalaman istimewa: salat Jumat diimami Rhoma Irama sang raja dangdut!

Muazinnya tak kalah terkenal, yakni Muhammad Fauzan Lubis alias Ojan, vokalis grup band Sisitipsi. Sebuah momen yang entah kapan bisa terulang lagi dalam hidup Fajar.

“Artis-artis terkenal banyak jugo yang nonton. Orang-orang yang biaso dilihat di tivi atau YouTube, berbaur dengan penonton. Hal yang sulit diliat di Jambi,” tutur Fajar saat dihubungai Bahar Pos, Senin (8/9/2025), alias hanya sehari setelah hajatan tahunan ini usai.

Sayo papasan dengan Arie Kriting ado kali sepuluh kali, wkwk,” lanjutnya, seraya menambahkan jika (mantan) Menteri Olahraga Dito Ariotedjo juga terlihat, tetapi sulit didekati karena selalu dikawal.

Bingung Memilih

Hal spesial lainnya, Pestapora 2025 tak cuma menghadirkan deretan penyanyi dan band papan atas seperti biasa. Khusus tahun ini, penyelenggara membuat terobosan: para penampil diminta saling bertukar lagu!

“Kangen Band bawain lagu Sheila on 7. Itu sih, serunyo Pestapora tahun ini, pado tukeran lagu,” cerita Fajar yang masa kecilnya ditemani lagu-lagu kedua band tersebut.

“Yang paling spesial nonton Ebiet samo Iwan Fals. Pas momen Ebiet bawain lagu Ibunyo Iwan Fals, rasonyo langsung menusuk dada. Tanpa sadar menitikkan air mata, teringat Ibu,” lanjut Fajar.

Fajar memang belum lama ditinggal ibunya. Ia menjelaskan, sang ibu meninggal dunia pada 5 Mei 2024. Momen Ebiet menyanyikan lagu Ibu milik Iwan Fals itu ia abadikan dalam bentuk video.

Meski demikian, Fajar tentu saja tak mau larut dalam duka. Ia datang untuk bergembira, meski sempat dibuat bingung oleh banyaknya panggung dan beberapa band atau penyanyi favorit yang tampil bersamaan.

“Ini festival musik terbesar yang pernah sayo tonton. Sebelumnyo, kalau di Jambi paling banyak duo panggung, ini kemarin di Pestapora ado lima belas stage lebih.

“Jadi bingung mau nonton yang mano. Harus ado yang direlakan. Kayak kemarin contohnyo, nonton Dato’ Siti Nurhaliza harus merelakan Gigi dan atau Souljah karena mereka tampil bareng,” tambahnya.

Alhasil, Fajar yang datang bersama dua temannya sesama alumnus SMA Titian Teras Jambi, Gery dan Esa, seringkali berpencar karena punya pilihan berbeda-beda. Ia lebih memilih menyaksikan penampilan Dato’ Siti Nurhaliza.

Dato' Siti Nurhaliza di Pestapora 2025

Mereka bertiga berkumpul lagi di booth makanan seusai menyaksikan idola masing-masing. Ini titik lain dalam arena Pestapora 2025 yang membuat Fajar kagum luar biasa.

Booth kuliner ber-AC, bahkan antri makanan diatur. Dalam hati sayo ngomong, ini kalo tempat F&B Pestapora dipisah, biso jadi event dewek saking banyaknyo booth makanan,” kenang Fajar.

Penonton juga tak perlu risau antrian di toilet, sebab jumlahnya ada banyak. Bahkan ada area khusus pijat bagi pengunjung yang kakinya pegal usai terlalu lama berdiri, juga tempat penitipan anak.

Bingung mencari lokasi panggung di mana artis idola tampil atau ingin mencicipi jajanan tertentu?

Tinggal tanya saja pada panitia khusus yang membawa banner bertuliskan “ASK ME”. Mereka disiapkan khusus untuk membantu penonton mencari tempat-tempat tertentu dalam arena konser.

Terancam Batal

Fajar pertama kali mengetahui tentang Pestapora sejak edisi perdana yang digelar pada 23-25 September 2022. Ia yang rajin memantau media sosial melihat konser ini viral dan jadi pusat pemberitaan karena menawarkan konsep unik.

Tidak main-main, edisi perdana tersebut menampilkan 174 artis. Faktor yang membuat Pestapora 2022 sukses menarik total sekitar 75.000 penonton sepanjang tiga hari.

“Dulu pas awal-awal setelah Covid, event ini viral di sosmed. Sayo liat, kayaknyo seru nian. Tapi waktu itu baru balek ke Bahar, jadi belum kepikiran nonton,” kenang Fajar yang sempat tinggal lama di Bogor selepas menamatkan pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Edisi kedua pun ia lewatkan karena tengah sibuk dengan aktivitas di dunia cryptocurrency. Sebuah kesibukan yang membawanya ke Istanbul, Turki, diundang menghadiri serangkaian konferensi Web3 garapan satu Decentralized Exchange (DEX) asal Singapura.

Baru pada pertengahan tahun ini Fajar kembali teringat Pestapora. Pucuk di cinta ulam tiba, Gery mengontaknya, mengajak berangkat bareng dari Jambi. Sementara Esa bekerja di Tangerang, sehingga kebagian tugas menyambut di Ibu Kota.

“Gery ngajak sekitar bulan April atau Mei. Waktu itu sudah lewat tu, penjualan tiket early bird. Jadi kami nunggu penjualan tiket dibuka lagi, agak lamo,” kata Fajar.

Begitu penjualan tiket reguler dibuka secara resmi pada 16 Juli 2025, Fajar dan Gery langsung membeli di hari pertama. Selanjutnya mereka patungan memesan hotel di sekitaran Kemayoran.

Tiket konser sudah di tangan dan hotel juga sudah dipesan, selanjutnya Fajar dan Gery memesan tiket pesawat. Namun demikian, satu-dua hari menjelang acara justru berembus kabar kurang enak dari Jakarta.

“Hal tak terduganya justru pas dekat Hari-H. Karena demo-demo itu Pestapora kan terancam batal,” jelas Fajar.

Waktu itu memang Jakarta sempat dicekam serangkaian aksi demonstrasi yang diwarnai kericuhan. Suasana bertambah panas usai seorang pengemudi ojek online tewas terlindas kendaraan taktis Brimob.

“Dalam hati kesal nian kalau sampai Pestapora batal. Jadi, kami nunggu keputusan dari panitia. Kalau sampai batal, kami nak buru-buru refund hotel dan pesawat,” imbuh Fajar.

Beruntung suasana di Ibu Kota berangsur-angsur reda. Fajar yang terus memantau perkembangan situasi di media sosial akhirnya bernapas lega karena Pestapora tetap berjalan seusai agenda.

“Cuma yang biasonyo sore ke malam, diganti jadi pagi ke sore karena kondisi Jakarta yang kurang kondusif. Jadi, tantangannyo panas. Tapi pas baru masuk kami dikasih sunscreen, lumayan untuk mengurangi kulit terbakar,” lanjutnya.

Menghemat Pengeluaran

Jer besuki mawa bea, demikian bunyi ujar-ujar Jawa yang menjadi semboyan provinsi Jawa Timur. Artinya kurang-lebih semakna dengan ungkapan “tidak ada makan siang gratis.”

Demikian pula bagi Fajar. Ada harga dan pengorbanan yang harus ia bayar demi memperoleh pengalaman berkesan selama tiga hari menjadi bagian keseruan Pestapora 2025.

Dari segi nonmateril, ia musti meninggalkan keseruan lain di desanya, yakni menjadi panitia lomba agustusan. Padahal turnamen voli sedang seru-serunya karena memasuki fase gugur.

“Sebelum pergi kan, sayo jadi panitia tujuhbelasan. Jadi, badan masih di Bahar, tapi pikiran dan hati sudah melayang ke JIExpo Kemayoran,” tuturnya.

Lalu ada pula tantangan klasik bagi warga Bahar yang hendak ke kota: jalanan rusak nyaris sepanjang rute. Belum lagi jika sampai terjebak macet panjang yang biasa terjadi di jalur Penerokan-Tempino.

Sedangkan dari segi materi, Fajar mau tak mau merelakan secuil aset kriptonya dijual demi membiayai perjalanan ini: beli tiket Pestapora, tiket pesawat, booking hotel, ongkos travel Bahar-Jambi, serta uang saku selama di perjalanan.

Demi menekan pengeluaran, Fajar memutar akal agar mendapat harga termurah di semua titik. Untuk tiket Pestapora, misalnya, ia memilih tipe 3 Day Pass seharga Rp650.000 karena jatuhnya lebih ekonomis ketimbang Daily Pass (Rp300.000) maupun Daily Early Entry (Rp225.000).

“Untuk hotel, kami patungan pesan Red Doorz yang dekat venue acara. Nginap di hotel yang seratus ribuan per malam,” tulis Fajar, diikuti emoticon tertawa lebar.

Sedangkan untuk tiket pesawat, Fajar sengaja menunggu mepet hari keberangkatan dengan harapan harganya turun. Benar saja, kurang dari sepekan dari tanggal yang ia tetapkan, tarif yang tertera di aplikasi pemesanan online sudah berkurang lumayan.

Bagi Fajar, segala pengeluaran dan pengorbanan tersebut sepadan dengan apa yang didapat selama tiga hari di Pestapora. Perjalanannya lebih dari sekadar menonton musik. Itu adalah sebuah misi untuk memuaskan rasa ingin tahu, sekaligus membuktikan bahwa dunia di luar sana, dengan segala keunikan dan hiruk pikuknya, bisa dijangkau.

“Walaupun cuma sekali, harus dicoba nonton Pestapora, sebab dunia bukan cuman Bahar. Jakarta ini sudah dunia yang berbeda dengan Jambi, segala macam bentuk orang ado di Pestapora ini. Banyak kawan di Bahar harus lebih berani. Banyak caronyo, kok,” pesan Fajar pada seama kawula muda Bahar.

Diam-diam Fajar berharap, jika kelak ruas jalan tol Trans Sumatera sudah tersambung semua, akan ada festival semacam Pestapora di Jambi. Ia membayangkan konsernya di tengah hutan, lalu penonton dari Bahar road trip ke lokasi.

Ditanya pelajaran apa yang ia dapat dari Pestapora, Fajar berkata bahwa ia jadi menyadari besar-kecil itu hanyalah perkara jumlah. Yang sekarang besar, berawal dari kecil dulu.

“Ternyata sekecil apapun yang tampil di Pestapora ini, ado bae penggemarnyo yang tau semua lagunyo. Terus, bener kayaknyo orang tuh emang punyo genre musik masing-masing,” simpul Fajar.

Dari sana, ia mendapat pesan untuk jangan pernah minder hanya karena merasa “kecil” dibandingkan orang lain. Teruslah berkarya, sebab konsistensi yang akan membantu kita tumbuh lebih besar dari waktu ke waktu.

Walaupun melelahkan, bagi Fajar menonton Pestapora 2025 adalah pengalaman yang sangat berharga lagi mengesankan. (en)