BAHAR POS – Salah satu tersangka otak pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI, Mohamad Ilham Pradipta (MIP, 37), di Jakarta ternyata crazy rich Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. Netizen Jambi pun geger.
Seperti yang menjadi sorotan media nasional dalam beberapa hari terakhir, MIP diculik beberapa pria di sebuah area parkir di kawasan Jakarta Timur, Rabu (20/8/2025) sore WIB. Keesokan harinya, korban ditemukan tewas oleh warga di Kampung Karangsambung, RT9 RW4, Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Polisi mengonfirmasi jika jasad yang ditemukan adalah MIP. Keadaan korban sangat mengenaskan, dengan kedua tangan dan kaki terikat, sedangkan mata terlilit lakban.
Tak sampai 24 jam, aparat kepolisian berhasil membekuk empat tersangka penculikan. Mereka diamankan di dua tempat berbeda; tiga pelaku berinisial AT, RS, dan RAH di Jl. Johar Baru III No. 42, Jakarta Pusat, sedangkan tersangka RW di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Sehari berselang, kepolisian kembali menangkap empat tersangka pelaku lain. Masing-masing berinisial AA, C, DH, dan YJ yang ditangkap di dua lokasi berlainan.
“Pelaku berinisial DH, YJ dan AA ditangkap Sabtu, tanggal 23 Agustus 2025, pukul 20.15 WIB, di daerah Solo, Jawa Tengah,” kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, Abdul Rahim dalam keterangannya, Ahad (24/8/2025).
Sementara pelaku berinisial C ditangkap keesokan harinya pada pukul 15.30 WIB di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.
Polisi membedakan kedelapan pelaku dalam dua klaster. Empat tersangka sebelumnya, yakni AT, RAH, dan RS, masuk klaster eksekutor penculikan. Sedangkan AA, C, DH, dan YJ masuk klaster mastermind atau otak perencana kejahatan.
Salah satu pelaku dalam klaster otak alias dalang inilah yang menggegerkan netizen Jambi, khususnya warga Kabupaten Tebo. Terutama sekali penduduk Unit 6 (Desa Tirta Kencana dan Mekar Kencana), Kecamatan Rimbo Bujang.
Crazy Rich Doyan Flexing
Pelaku berinisial DH kemudian diketahui bernama lengkap Dwi Hartono. Sosok ini sejak lama dikenal sebagai crazy rich Rimbo Bujang dan menjadi role model anak muda setempat.
Nama Dwi Hartono terkenal karena media sosialnya dipenuhi aksi flexing alias pamer kekayaan. Dalam satu unggahan di akun Instagram-nya, @klanhartono, pada Januari lalu, ia memamerkan setumpuk gepokan uang berwarna merah dan biru.
Menilik pada tingginya tumpukan gepokan uang merah saja, yang dipamerkan Dwi dalam unggahan tersebut diperkirakan berjumlah miliaran rupiah. Meski caption-nya bernada memotivasi, sulit untuk tidak melihatnya sebagai tindakan pamer alias flexing.
Pada September 2021, Dwi mengunggah video dirinya tengah melakukan test ride helikopter. Narasi yang diberikan kala itu, lelaki kelahiran 6 Oktober 1985 tersebut hendak membeli helikopter.
Dwi juga kerap mengunggah momen ketika dirinya sedang mengendarai mobil mewah. Juga berlibur ke luar negeri, misalnya ketika mengunjungi jembatan kaca di Gunung Tianmen, di Taman Nasional Zhangjiajie, Provinsi Hunan, Tiongkok.
Di kampung halamannya, Dwi beberapa kali jadi pusat pemberitaan karena mendatangkan pesohor-pesohor asal ibukota. Ia, misalnya, pernah mengundang Via Vallen untuk menghibur warga Rimbo Bujang pada 5 Juli 2018.
Kedatangan Via Vallen di Lapangan Kolim Unit VI itu membuat geger lantaran acaranya ‘hanyalah’ sunatan. Dwi selaku pemilik hajatan tengah mengkhitan puteranya yang memiliki nama mirip si penyanyi, Valens.
Lalu Dwi juga pernah mengundang Wika Salim dan Ustadz Zaky Mirza dalam acara reuni akbar sekolah tempatnya dulu belajar pada 18 September 2022. Dalam kesempatan itu pula namanya kian harum sebagai pengusaha sukses asal Rimbo Bujang, Tebo.
Pengembang Aplikasi Pendidikan
Di perantauan, Dwi tercatat tinggal di kompleks Perumahan Kota Wisata Cibubur. Ia dikabarkan setidaknya mempunyai dua properti di sana, yakni di Cluster San Fransisco Blok Q1 No. 8 dan 9.
Melongok lokapasar penjualan rumah, harga satu unit dengan luas tanah 300 m² dan memiliki 4 kamar tidur di Cluster San Francisco berada di kisaran Rp3,9 miliar. Bagi warga Rimbo Bujang, angka tersebut setara dengan 4-5 kapling sawit seluas 8-10 hektar.
Salah satu rumah mewah tersebut difungsikan sebagai kantor PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia (DAI), perusahaan pengembang aplikasi pendidikan online dengan jenama Guruku. Dari pantauan di Google PlayStore, tercatat baru ada total seribuan pengunduh dengan rating 4.2 bintang dari 11 pengulas.
Dwi juga tercatat mempunyai PT Hartono Mandiri Makmur yang berfokus pada pengembangan perangkat lunak dan aplikasi digital. Guruku sangat boleh jadi dikembangkan oleh perusahaan ini, tetapi dioperasikan di bawah bendera PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia.
Pendek kata, Dwi Hartono diprofilkan sebagai seorang pengusaha muda sukses asal Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi. Semua ini membuat Dwi kerap diminta tampil sebagai motivator dalam seminar-seminar bisnis. Ia juga punya kanal YouTube yang berisi konten-konten motivasi bisnis.
Entah kaitan apa yang kemudian menyebabkan Dwi terlibat dalam pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta, Kepala Cabang Pembantu BRI di Cempaka Putih, Jakarta. Publik Tebo, khususnya warga Rimbo Bujang, rasa-rasanya akan terus mengikuti perkembangan kasus ini untuk mendapatkan jawaban.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi, menyatakan Dwi berperan sebagai pengendali dalam aksi yang merenggut nyawa MIP. Ia kini tengah diperiksa intensif bersama tiga orang lain yang juga ditangkap.
“Penyelidikan masih berjalan. Rangkaian peristiwa dan peran masing-masing tersangka akan segera kami sampaikan,” kata Hengki.