Category Archives: Jambi

Komitmen Pertamina Lestarikan Warisan Alam-Budaya Melalui Program Ekologi Nusantara (Ekosantara)

BAHAR POS – PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam partisipasi aktif melestarikan warisan alam dan budaya Jambi. Hal ini diwujudkan dengan meluncurkan program Ekologi Nusantara (Ekosantara) di kawasan cagar budaya Candi Muaro Jambi.

Berlangsung sepanjang Agustus-September 2025, aksi ini diselenggarakan melalui PT Pertamina Patra Niaga, anak perusahaan Pertamina yang bertanggung jawab menjalankan rantai kegiatan bisnis hilir perusahaan pelat merah tersebut. Bertindak sebagai pelaksana lapangan adalah Fuel Terminal (FT) Jambi yang merupakan bagian dari Subregional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

“Program Ekosantara merupakan gerakan kolaboratif untuk melestarikan warisan alam dan budaya,” jelas Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, Senin (18/8/2025).

Di Jambi, langkah yang dilakukan adalah dengan menggabungkan upaya pelestarian warisan budaya cagar budaya Candi Muaro Jambi dengan konservasi keanekaragaman hayati di kawasan sekitarnya.

“Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Kami percaya bahwa pelestarian alam dan budaya adalah pondasi pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.

Rusminto Wahyudi menegaskan, tujuan pelaksanaan Ekosantara adalah untuk memperkuat Candi Muaro Jambi sebagai warisan sejarah sekaligus pusat konservasi biodiversitas dan destinasi wisata edukasi lingkungan berkelanjutan di Jambi. Hal ini sejalan dengan komitmen Pertamina terhadap prinsip Environment, Social, Governance (ESG).

Program ini punya tujuan jangka panjang membentuk komunitas sadar lingkungan dan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis ekowisata. Pertamina menargetkan, pelaksanaan Ekosantara di Candi Muaro Jambi dapat menjadikan kawasan ini sebagai model percontohan nasional dalam integrasi pelestarian budaya-konservasi biodiversitas, sehingga dapat direplikasi di kawasan cagar budaya lainnya di Indonesia.

Pertamina melibatkan banyak pihak dalam program Ekosantara di Candi Muaro Jambi. Tak hanya Pemerintah, para akademisi, mahasiswa, pelaku usaha, hingga komunitas lokal dan media juga diajak serta berperan aktif.

Beberapa komunitas lokal yang terlibat di antaranya Kelompok Sadar Wisata dan Pemuda Peduli Lingkungan di Lubuk Penyengat. Keduanya diharapkan proaktif menjadi garda terdepan dalam edukasi masyarakat, pemeliharaan kebersihan kawasan, dan pengembangan wisata berbasis ekologi di wilayahnya yang merupakan gerbang utama kawasan cagar budaya.

Langkah Positif

Untuk mengawali program ini, Pertamina menggelar kegiatan susur sungai dan observasi biodiversitas selama dua pekan di kawasan hutan dan aliran sungai dalam area kompleks Candi Muaro Jambi.

Sejumlah kalangan lintas sektoral terlibat aktif dalam kolaborasi pertama ini. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi mengambil peran penting dalam susur sungai, sedangkan akademisi Universitas Jambi (Unja) menjadi kunci dalam proses pendataan spesies endemik di wilayah sasaran.

Dosen dan peneliti dari Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi dUniversitas Jambi (Unja) Dr. Tedjo Sukmono, S.Si., M.Si. ikut menggawangi jalannya kegiatan demi memastikan standar ilmiah dalam setiap tahapan observasi.

“Kawasan Candi Muaro Jambi memiliki nilai strategis sebagai laboratorium alam yang menyimpan kekayaan biodiversitas. Melalui penelitian lapangan ini, kami dapat memetakan potensi flora dan fauna endemik sekaligus membangun kapasitas generasi muda dalam bidang konservasi,” papar Tedjo Sukmono.

Observasi yang dilakukan Tedjo bersama tim peneliti Unja telah berhasil mengidentifikasi sejumlah spesies endemik di kawasan Muaro Jambi. Di antaranya berbagai jenis pohon lokal dan burung khas tempatan yang berperan vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem sungai dan hutan di kawasan tersebut.

Tedjo menambahkan, data hasil penelitian ini akan menjadi basis penyusunan peta konservasi dan strategi pelestarian berkelanjutan di kawasan Cagar Budaya Candi Muaro Jambi.

Sementara Kepala BKSDA Provinsi Jambi Agung Nugraha menyambut baik ajakan kolaborasi ini. Ia mengingatkan, upaya konservasi hanya akan berjalan efektif jika melibatkan pihak-pihak terkait.

“Kami menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Upaya konservasi yang efektif memerlukan keterlibatan seluruh stakeholder. Program Ekosantara menunjukkan bahwa pelestarian biodiversitas adalah tanggung jawab bersama yang melampaui batas institusional,” kata Agung.

Nindya Eltsani Fawwaz: Dari Sungai Penuh ke Istana Merdeka

BAHAR POS – Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, nama Nindya Eltsani Fawwaz, akrab disapa Eltsa, mencuat sebagai salah satu sosok muda yang membanggakan Provinsi Jambi. Siswi kelas XI SMA Negeri 2 Kota Sungai Penuh ini terpilih sebagai cadangan pembawa baki dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Negara, Jakarta, Ahad (17/8/2025) pagi.

Eltsa menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2025 mewakili Jambi. Ia berangkat bersama Frans Sokhi Lase dari SMA Negeri 1 Kota Jambi.

Keduanya berangkat ke Jakarta pada 14 Juli 2025, setelah sebelumnya menjalani upacara pelepasan bersama Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman. Eltsa dan Frans lantas mengikuti pemusatan pendidikan dan pelatihan di Taman Rekreasi Wiladatika di Depok, Jawa Barat, bersama seluruh anggota Paskibraka Nasional lainnya dari seluruh Indonesia.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Jambi, mewakili Bapak Gubernur, kami secara resmi memberangkatkan dua calon Paskibraka perwakilan Provinsi Jambi, yaitu Ananda Frans dan Nindia dari Kota Jambi serta Kota Sungai Penuh,” kata Sudirman saat acara pelepasan, seperti diberitakan Antara.

Dalam kesempatan itu pula, Sudirman mengungkapkan harapan agar Eltsa maupun Frans mendapat peran kunci dalam upacara di Istana Negara, yakni menjadi pembawa baki dan pengibar bendera.

“Kami juga berharap, dua utusan ini dapat menjadi pengibar bendera dan pembawa baki. Paling utama dapat melaksanakan tugas dengan baik,” tambah Sudirman.

Apa yang diharapkan Sudirman nyaris menjadi kenyataan, sebab nama Eltsa masuk dalam nominasi pembawa baki. Diary Paskibraka Liputan6 bahkan mencatat, gadis berusia 16 tahun tersebut sudah sering dilatih sebagai pembawa baki sejak 7 Agustus.

Harapan tersebut tidak terwujud, sebab yang kemudian tampil sebagai pembawa baki dalam upacara di Istana Negara adalah Bianca Alessia Christabella Lantang, siswi sekolah unggulan SMA Lentera Harapan Tomohon yang berada di Bawah kaki Gunung Lokon, Sulawesi Utara.

Namun demikian, tetap saja Eltsa mengharumkan nama Jambi sebagai cadangan pembawa baki dalam upacara tersebut. Sebuah peran yang juga mengharumkan daerah asalnya.

Disiplin, Penuh Prestasi

Eltsa lahir di Padang pada 27 Juni 2009. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi yang disiplin, aktif, dan penuh semangat.

Tak hanya mengejar prestasi di sekolah, Eltsa juga rajin mengikuti berbagai kegiatan. Salah satunya di bidang modelling, yang berbuah kemenangan dalam ajang Bujang-Gadis Kota Sungai Penuh 2024.

Tak hanya itu, Eltsa juga menekuni seni dan kegiatan sosial. Hobi monolog yang digelutinya menunjukkan sisi kreatif dan ekspresifnya, hal yang melengkapi kedisiplinan dalam sisi lain dirinya.

Perjalanan Eltsa menuju Paskibraka Nasional dimulai sejak ia aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Dari latihan baris-berbaris, pencak silat, hingga organisasi siswa intra sekolah (OSIS), ia menunjukkan ketekunan dan kemampuan leadership yang menonjol.

Seleksi Paskibraka tingkat daerah bukanlah hal mudah; ia harus melalui tes fisik, mental, serta wawancara yang ketat. Namun dedikasi dan kemampuannya membuatnya berhasil lolos, mewakili Jambi untuk mengikuti pemusatan latihan di Depok, Jawa Barat.

Masa pemusatan pendidikan dan pelatihan di Depok bukan hanya tentang kemampuan fisik. Setiap peserta dituntut menanamkan kedisiplinan, fokus, dan pengendalian diri.

Ketika masuk nominasi calon pembawa baki, Eltsa menghadapi tantangan tambahan: menjaga kestabilan posisi baki saat mengangkat bendera, yang memerlukan konsentrasi maksimal dan ketahanan mental. Bukan tugas mudah, mengingat jika terpilih ia bakal menjadi pusat perhatian se-Indonesia.

Puncaknya adalah 17 Agustus 2025, saat Eltsa berdiri tegak di halaman Istana Merdeka. Walaupun batal menjadi pembawa baki, posisi yang akhirnya ditempati oleh Bianca Alessia Christabella Lantang, kehadirannya tetap menjadi simbol kepercayaan tinggi yang diberikan kepada generasi muda dari Jambi.

Pertama dari Kerinci

Secara khusus, Pemerintah Kota Sungai Penuh menyampaikan apresiasi atas pencapaian Eltsa. Kepala Bidang Kesbangpol setempat, Dedi Iryanto, menyatakan bahwa bahkan terpilihnya gadis itu dalam Paskibraka Nasional sudah menjadi prestasi tersendiri bagi daerahnya.

“Sejak berdirinya Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, baru kali ini ada pelajar putri [dari daerah ini] yang lolos sebagai Paskibraka Nasional dan berkesempatan bertugas di Istana Negara,” kata Dedi, sebagaimana diberitakan Liputan6.com.

“Pencapaian Nindya menjadi bukti bahwa generasi muda Sungai Penuh dan Kerinci mampu bersaing di tingkat nasional, asalkan diiringi tekad kuat, disiplin, dan kerja keras,” tambahnya.

Cerita perjalanan Eltsa ke Paskibraka Nasional bukan hanya soal prestasi, tetapi juga pembelajaran hidup. Ia belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi tekanan. Proses latihan panjang dan seleksi ketat mengajarkannya bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui kerja keras, ketekunan, dan kesabaran.

Kisah ini menjadi inspirasi bagi generasi muda di Jambi dan seluruh Indonesia. Banyak siswa yang melihat Eltsa sebagai contoh bahwa mimpi besar bisa dicapai dari kota kecil sekalipun, selama ada tekad dan kerja keras.

Prestasi Eltsa juga memicu perhatian media nasional, menegaskan bahwa talenta dan karakter kuat dari daerah mampu bersaing di tingkat tertinggi. Setiap langkahnya di Istana Merdeka bukan sekadar simbolis, tetapi juga pengingat bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membentuk masa depan bangsa.

Melalui kisahnya, Nindya Eltsani Fawwaz membuktikan bahwa dengan ketekunan, disiplin, dan dedikasi, generasi muda dapat menembus batasan geografis maupun sosial. Dari Kota Sungai Penuh nun berada di daerah pegunungan di tengah-tengah Sumatera, ia menjejakkan kaki di panggung nasional, menjadi bagian dari sejarah bangsa.

Kisah Eltsa mengingatkan kita bahwa setiap mimpi besar memerlukan usaha nyata, ketekunan, dan keberanian untuk menghadapi tantangan. Dari sekolah menengah di Jambi hingga halaman Istana Merdeka, perjalanan ini bukan sekadar tentang penghargaan, tetapi tentang pembentukan karakter, tanggung jawab, dan pengabdian bagi bangsa.

Kisah ini adalah cerminan nyata bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, bisa mengantar kita ke prestasi yang membanggakan—bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk daerah dan bangsa.

Dengan semangat yang sama, generasi muda Indonesia dapat terus mengukir prestasi dan mewujudkan cita-cita yang lebih besar.

Kiprah Wenny Ira Membangun Desa Pesisir Sungai Batanghari lewat Bank Sampah

MENJELANG senja, ratusan orang datang memadati Jembatan Gentala Arasyi yang membentang di atas Sungai Batanghari, Kota Jambi. Tak hanya dipenuhi kaum muda-mudi, pengunjung dari kalangan keluarga juga ada. Bahkan tidak sedikit yang membawa anak-anak balita.

Mereka berduyun-duyun untuk menantikan momen terbenamnya matahari yang seolah jatuh di ujung sungai. Sembari menunggu sunset, berbagai menu makanan yang disajikan oleh para pedagang di sepanjang tepian adalah godaan tak terelakkan.

Sudah menjadi pemandangan lumrah di negeri ini, setiap kali ada kerumunan manusia maka yang ditinggalkan setelahnya adalah serakan rupa-rupa sampah. Umumnya berupa sampah plastik, seperti botol minuman atau kemasan aneka penganan.

Sebagian dari sampah itu kemudian berakhir di Sungai Batanghari. Menyebabkan pencemaran yang membuat airnya lama-lama tak lagi layak pakai karena mengandung bermacam-macam zat berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Padahal Sungai Batanghari masih menjadi penyuplai utama kebutuhan air sehari-hari bagi warga desa-desa di sepanjang tepiannya. Salah satu di antaranya warga Desa Penyengat Olak, satu desa pesisir sekitar 10 km di barat laut Gentala Arasyi.

Pencemaran Sungai nan Memprihatinkan

Desa Pematang Olak terletak tepat di tepian Sungai Batanghari. Lebih persisnya lagi di ujung Jembatan Aurduri I yang merupakan pembatas wilayah Kota Jambi dengan Kecamatan Jambi Luar Kota di Kabupaten Muaro Jambi.

Saat air pasang, sebagian daerah pemukiman di Penyengat Olak bahkan berubah menjadi badan sungai. Itu sebabnya sebagian besar penduduk membangun rumah panggung dari kayu nan tinggi.

Sejak dahulu kala warga Desa Penyengat Olak memanfaatkan air Sungai Batanghari sebagai sumber penghidupan. Untuk mandi anak-anak sekolah di pagi hari, untuk mencuci pakaian dan segala perkakas bagi ibu-ibu rumah tangga, juga tempat mencari penghasilan bagi kaum pria.

Setiap pagi, ketika anak-anaknya mandi dan istrinya mencuci, para lelaki di Desa Penyengat Olak mengarahkan perahu lebih ke tengah. Ada yang memancing, ada pula yang memasang jala. Tentu dengan harapan agar saat kembali ke rumah mereka membawa pulang sekawanan ikan.

Ikan-ikan hasil tangkapan dari sungai berjuluk Nago dari Selatan ini tak sekadar untuk lauk makan sekeluarga. Jika dapat banyak, maka selebihnya akan berakhir di pasar-pasar terdekat.

Rutinitas seperti itu sudah menjadi pemandangan umum di bantaran Sungai Batanghari selama puluhan tahun. Bahkan sebuah foto lawas dari era penjajahan Belanda telah menangkap gambaran serupa.

Sampai kemudian pencemaran sampah selama bertahun-tahun membuat kondisi air Sungai Batanghari tak lagi layak pakai.

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Jambi edisi 2015 menegaskan hal tersebut. Hasil pengujian yang dilakukan terhadap air Sungai Batanghari menunjukkan adanya kandungan-kandungan berbahaya, sehingga tidak memenuhi kriteria Status Baku Mutu Air.

Menurut laporan tersebut, setiap tahun Sungai Batanghari dicemari Biological Oxygen Demand (BOD) sebesar 54,5 ton. Ditambah Total Suspended Solid (TSS) sebanyak 97,2 ton, lalu yang tertinggi adalah Chemical Oxygen Demand (COD) sejumlah 164,3 ton per tahun.

Ini belum termasuk 17,4 ton jenis limbah lainnya dalam setahun. Gabungan angka-angka ini menghasilkan jumlah yang mencengangkan serta layak membuat kita semua prihatin.

Lebih memprihatinkannya lagi, sebagian dari limbah ratusan ton per tahun itu berasal dari masyarakat sendiri. Sungai Batanghari yang punya peran besar dalam setiap kilasan sejarah penting Negeri Jambi ini difungsikan tak ubahnya sebagai tong sampah raksasa.

Minimnya Peran Perempuan di Desa

Berangkat dari keprihatinan inilah Wenny Ira Reverawati memulai kiprahnya. Di tahun yang sama ketika Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Jambi edisi 2015 dipublikasi, ia mendapat mandat sebagai anggota sebuah tim Community Development di kampusnya untuk turun ke Desa Penyengat Olak.

Mulanya yang menjadi perhatian utama Wenny adalah rendahnya peran serta kaum perempuan dalam pengelolaan dan pembangunan di desa tersebut. Tujuan awal yang ingin ia capai adalah menempatkan para perempuan Penyengat Olak dalam posisi yang setara dalam proses pengambilan keputusan, penganggaran dan pengawasan pembangunan desa. Maklum saja, Wenny memang telah lama berkecimpung dalam bidang pemberdayaan perempuan.

Semasa menempuh pendidikan sarjana dan master di Yogyakarta, perempuan kelahiran Desa Pematang Kancil, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, ini aktif di beberapa organisasi perlindungan perempuan. Di antaranya Garda Perempuan dan Save Our Sister.

Dari kiprahnya berorganisasi, Wenny jadi semakin jauh melihat akan adanya diskriminasi gender dalam masyarakat. Utamanya di daerah yang kental dengan budaya patriarki. Dalam segala sektor yang sebetulnya bukan dominasi gender tertentu, perempuan selalu saja tertinggal jauh dari laki-laki.

Dalam bidang pendidikan, misalnya, masih banyak orang tua yang beranggapan jika perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh, ujung-ujungnya hanya akan jadi ibu rumah tangga. Hal ini, dalam pandangan Wennny, sungguh merendahkan peran penting perempuan sebagai guru pertama bagi anak-anaknya sebagai penerus bangsa.

Bagi Wenny, anak-anak cerdas hanya akan terlahir dari seorang ibu yang cerdas pula. Karena itulah membatasi akses pendidikan terhadap perempuan adalah kerugian besar bagi sebuah bangsa di masa depan.

Lalu pada bidang lainnya, perempuan bahkan tak lebih sebagai pelengkap saja. Sikap dan suaranya tidak diperhitungkan dalam pengambilan keputusan. Kalaupun dilibatkan dalam sebuah kegiatan, peran perempuan seringkali pasif saja. Sekadar pelaksana tugas dari program yang, lagi-lagi, dirancang dan ditetapkan oleh laki-laki.

Hal-hal seperti inilah yang ingin Wenny ubah. Sebagai perempuan, ia tak ingin kaumnya terus berada di belakang laki-laki. Bukan bermaksud hendak melangkahi, tetapi setidaknya tempatkanlah perempuan di sisi laki-laki sebagai teman seiring sejalan.

Pola pikir progresif yang dibarengi semangat dan pengalaman berorganisasi di tanah rantau inilah yang kemudian Wenny terapkan sekembali ke Jambi. Di tengah-tengah kesibukan sebagai tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Nurdin Hamzah, ia menyempatkan diri terjun langsung mendalami problematika yang dihadapi masyarakat.

Melalui partisipasinya di tim Community Development, Wenny aktif menggarap proyek Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM). Ia mengamati berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, lalu secara bersama-sama mengurai masalah sehingga ditemukan solusi.

Tahun 2015, kiprahnya dalam tim Community Development membuat Wenny tiba di Penyengat Olak. Diskriminasi gender yang selama ini jadi perhatian utama Wenny, ia temui pula saat pertama kali masuk di desa pesisir tersebut.

Sebelumnya Wenny dan tim telah melakukan observasi mendalam terhadap Desa Penyengat Olak. Dari hasil pengamatan itulah mereka berkesimpulan jika keterlibatan perempuan dalam pembangunan desa tersebut masih sangat rendah.

Apa yang terjadi di Penyengat Olak sebetulnya hanyalah gambaran kecil dari rendahnya Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Provinsi Jambi kala itu. Tahun 2015, angka IPG dan IDG Provinsi Jambi masing-masing adalah 88,44 dan 62,43. Ini jauh berada di bawah indeks nasional, 91,03 dan 70,83.

Karena perempuan tak banyak berperan dalam kepemimpinan dan pengelolaan Desa Penyengat Olak, akibatnya tidak banyak anggaran desa yang dialokasikan bagi kepentingan kaum perempuan di sana.

Memberdayakan Perempuan dengan Sampah

Namun masalah ketimpangan partisipasi gender ini seperti lingkaran setan. Kaum lelaki di Penyengat Olak seolah punya alasan mengapa tidak banyak melibatkan perempuan. Penyebabnya tak lain adalah tingkat pendidikan dan keterampilan yang minim. Akibatnya, para perempuan hanya dipercaya sebagai ujung tombak pelaksana kegiatan pemerintah desa. Tidak lebih.

Di tengah upayanya memikirkan solusi bagi pemerataan peran perempuan dalam pembangunan Desa Penyengat Olak, Wenny menemukan problematika lain yang tak kalah serius: pencemaran Sungai Batanghari. Dengan cerdas ia lantas menggabungkan solusi atas kedua persoalan itu dalam satu gagasan cemerlang.

Wenny bersama tim mengajak para perempuan Penyengat Olak untuk berdiskusi. Dari pertemuan ke pertemuan, akhirnya dicapai kata sepakat untuk merintis sebuah aksi penyelamatan Sungai Batanghari yang dibarengi dengan pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai bahan kerajinan daur ulang.

Sekali dayung dua pulau terlampaui. Wenny tak cuma mengupayakan peran aktif perempuan Desa Penyengat Olak, tetapi sekaligus menyelamatkan Sungai Batanghari dengan mencegah sampah rumah tangga terus-terusan dibuang ke alirannya.

Pucuk di cinta ulam tiba, gagasan Wenny disambut baik oleh para perempuan Desa Penyengat Olak. Isu pencemaran Sungai Batanghari sebagai urat nadi kehidupan warga desa sangat ampuh untuk menggerakkan kesadaran mereka.

Aksi sukarela kaum perempuan ini lantas dikukuhkan dalam sebuah organisasi pada Januari 2016. Namanya adalah Sekolah Bank Sampah Perempuan Penyengat Olak. Sekolah Bank Sampah Al-Kautsar Kota Jambi yang telah lebih dulu berkiprah digandeng sebagai mitra sekaligus organisasi percontohan.

Sesuai namanya, Sekolah Bank Sampah Perempuan Penyengat Olak memang bagaikan sekolah tempat para perempuan setempat belajar mengelola sampah. Tak sekadar agar paham dalam hal pemilahan sampah, tetapi juga mengolahnya menjadi karya-karya kriya nan bernilai.

Kegiatan pembelajaran dilakukan setiap Senin siang, di mana Wenny mendampingi para perempuan Penyengat Olak dengan telaten. Ia sadar betul, usahanya ini merupakan sebuah proses panjang. Pun anggota-anggotanya butuh waktu tidak sebentar untuk menyerap seluruh materi yang diajarkan dalam setiap pertemuan.

Untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas anggota, Wenny mendatangkan pengajar dari kalangan praktisi daur ulang sampah yang lebih berpengalaman. Hal ini membuat para perempuan Penyengat Olak lebih terpacu semangatnya.

Pelan tetapi pasti, hasil pembelajaran pun terlihat. Para perempuan anggota Sekolah Bank Sampah Penyengat Olak sudah mulai mahir membuat karya kerajinan tangan berbahan sampah. Kertas koran, potongan-potongan maupun, botol dan gelas plastik, semuanya berubah menjadi dompet, topi, vas bunga, kotak pensil dan aneka produk lain.

Jika dulu sampah-sampah itu berakhir di aliran Sungai Batanghari, maka sejak itu berubah menjadi rupa-rupa barang kerajinan yang menyumbang pemasukan tambahan bagi para perempuan pembuatnya.

Setelah berjalan sepuluh bulan, Wenny dan timnya sukses mendapatkan Surat Keputusan Pembentukan Sekolah Bank Sampah Penyengat Olak ke pemerintah desa setempat. Maknanya, kini organisasi para perempuan tersebut telah berbentuk badan resmi setingkat desa.

Menyusul legalisasi tersebut, pemerintah desa juga memasukkan kebutuhan aktivitas Sekolah Bank Sampah Perempuan Penyengat Olak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Artinya, ada dana yang bakal digelontorkan untuk mendukung kegiatan para perempuan tersebut.

Perhatian sama ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi dan kemudian Pemerintah Provinsi Jambi. Sekolah Bank Sampah Perempuan Penyengat Olak mendapat kesempatan untuk memperkenalkan produk-produk karya tangan anggotanya dalam berbagai kegiatan pameran di tingkat kabupaten dan provinsi.

Ini tentu saja tawaran yang tak ingin Wenny lewatkan. Akan tetapi ia harus mengakui jika dirinya sempat tidak percaya diri. Merasa belum terlalu lama belajar, Wenny menganggap hasil garapan para perempuan binaannya masih belum rapi. Masih belum layak dipamerkan.

Namun justru pihak penyelenggara yang terus mendorong. Hasil karya anggota Sekolah Bank Sampah Perempuan Penyengat Olak dipamerkan dari satu pameran ke pameran lain, sehingga semakin dikenal.

Diganjar SATU Indonesia Award

Jika dihitung sejak melakukan observasi permulaan di awal 2015 sampai mendapat legalitas dari pemerintah desa, nyaris dua tahun Wenny memperjuangkan lahirnya Sekolah Bank Sampah Perempuan Penyengat Olak.

Perjuangan itu tidak sia-sia, sebab para perempuan Penyengat Olak punya semangat yang sama dengan bahkan melebihi dirinya. Konsistensi dan semangat mereka membuat Sekolah Bank Sampah Perempuan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Berkat dukungan para perempuan Desa Penyengat Olak dan berbagai pihak lain, kiprah Wenny ini diganjar anugerah Penghargaan Indonesia SATU dari Astra Indonesia pada 2017.

Namun Wenny tidak bisa terus-terusan di Penyengat Olak. Menuruti ketentuan dalam program Community Development yang ia ikuti, Wenny hanya boleh mendampingi secara langsung selama tiga atau paling lama empat tahun.

Karena itu, per 2018 Wenny sudah tidak lagi menangani Sekolah Bank Sampah Perempuan binaannya tersebut. Ia melanjutkan kiprahnya di desa dan bidang lain. Salah satunya dengan turut menggagas lahirnya Festival Kampung Senaung yang bertujuan melestarikan nilai sejarah dan budaya Desa Senaung, salah satu pemukiman tua di Muaro Jambi.

Wenny juga aktif menuangkan gagasan-gagasannya di media, kegiatan yang sudah ia mulai sejak menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Artikel-artikelnya dapat dengan mudah ditemui di berbagai jurnal dan media massa.

Tema-tema sosial, terutama yang berhubungan dengan kaum perempuan, menjadi perhatian besar Wenny. Dan ia tak sekadar berwacana. Lahir dan tumbuh besar di desa kecil nun jauh dari pusat provinsi, perempuan bernama lengkap Wenny Ira Reverawati ini adalah contoh nyata bagaimana perempuan dapat berperan nyata dalam masyarakat.

Catatan: Artikel ini pertama kali dipublikasikan di blog pribadi penulis, https://bungeko.com, pada 29 Desember 2022.

Referensi:

  • kompasiana.com/wennyirawahyuni/58adb5b5ed9273de099b4655/membangun-ekonomi-desa-melalui-tangan-ibu
  • kompasiana.com/wennyirawahyuni/5869f3be2e7a619305f2f77b/eksplorasi-rumah-penghulu-kampung-berusia-350-tahun-di-desa-penyengat-olak
  • idntimes.com/life/inspiration/ratumas-ovvy/wenny-peran-perempuan-dalam-pembangunan-desa-lewat-bank-sampah
  • jambiupdate.co/artikel-orang-rimba-dan-orang-trans.html
  • puan.my.id/2018/07/putri-birru-shafa-si-pendaki-cilik/
  • jambi.antaranews.com/berita/332622/festival-kampung-senaung-angkat-potensi-desa
  • puan.my.id/2017/12/festival-kampung-senaung-revitalisasi-budaya-kampung-di-jambi/

Foto-foto merupakan dokumentasi pribadi Wenny Ira. Kecuali foto lawas rumah-rumah di pinggiran Sungai Batanghari (sekitar tahun 1877-1879) diambil dari laman Wikiwand.

Kibarkan 1000 Bendera di Jembatan Gentala Arasy, Jambi Pecahkan Rekor MURI

BAHAR POS – Pemerintah Provinsi Jambi menyuguhkan hal tak biasa dalam menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80: segenap jajaran OPD dalam lingkup Pemprov memasang 1.000 bendera di Jembatan Gentala Arasy, Kota Jambi, Sabtu (16/8/2025) pagi.

Tak pelak, kegiatan ini masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI). Rekor yang dipecahkan adalah penyelenggaraan pengibaran bendera merah putih terbanyak yang dilaksanakan di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

“Kegiatan pemasangan 1.000 Bendera merah putih di sisi kanan dan kiri Jembatan Gentala Arasy tercatat sebagai rekor dunia MURI,” kata Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri, dalam acara tersebut.

Yusuf menambahkan, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi Pemprov Jambi ini. Sang Saka Merah Putih, imbuhnya, merupakan identitas fundamental bangsa Indonesia dan memiliki kedudukan sangat penting.

“Bendera merah putih tidak hanya memiliki makna perjuangan yang dalam, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur sebagai simbol kedaulatan negara, sekaligus mencerminkan kepahlawanan, patriotisme, dan nasionalisme rakyat Indonesia,” tambah Yusuf.

Dalam kata sambutannya, Gubernur Jambi Al Haris mengatakan kegiatan ini bukan sekadar aksi seremonial semata. Melainkan satu wujud cinta Tanah Air dan nasionalisme dalam rangka penyambut peringatan Hari Kemerdekaan.

“Kegiatan ini tidak hanya mencatatkan sejarah baru bagi Provinsi Jambi, tetapi juga menjadi simbol kuat rasa nasionalisme dan kebersamaan masyarakat dalam menyemarakkan semangat kebangsaan,” ujar Al Haris.

Gubernur menambahkan, perjuangan di masa kini berbeda dengan perjuangan para pahlawan terdahulu. Karena itu pendekatan yang dilakukan demi menjaga negara dan bangsa ini juga harus berbeda.

“Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata melawan penjajah, maka hari ini perjuangan kita adalah menghadapi tantangan pembangunan, persaingan global, serta kemajuan teknologi. Perjuangan saat ini menuntut kerja keras, pengorbanan, dan kebersamaan dari seluruh lapisan masyarakat,” tambah Al Haris.

Membangun Indonesia di masa kini, demikian Al Haris, lebih berat daripada berperang, sebab dihadapi adalah dinamika zaman, kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, serta tuntutan untuk beradaptasi dengan dunia digital. Ia mengingatkan agar warga Jambi terus menjaga dan memperkuat semangat kebangsaan, gotong royong, dan rasa cinta terhadap negara.

Menutup sambutannya, Al Haris berharap agar semangat yang tercermin dalam kegiatan pengibaran 1.000 bendera merah putih di Jembatan Gentala Arasy dapat menjadi inspirasi bersama.

“Mari kita jadikan momentum ini sebagai pengingat bahwa kita memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun Provinsi Jambi dan mendukung kemajuan Indonesia. Semoga semangat Merah Putih terus berkibar, tidak hanya di jembatan ini, tetapi juga di hati seluruh masyarakat Jambi,” tutupnya.

Jembatan Gentala Arasy dibangun untuk menghubungkan dua wilayah Kota Jambi yang dipisahkan oleh Sungai Batanghari. Bangunan yang menjadi salah satu ikon daerah ini diresmikan oleh Wakil Presiden (saat itu) Jusuf Kalla pada 28 Maret 2015.

Pembangunan Gentala Arasy sendiri memakan waktu dua tahun, yakni selama 2012-2014, dan menghabiskan anggaran sebesar sekitar Rp 88,7 miliar yang terbagi ke dalam tiga tahun anggaran.

Dengan bentang sepanjang 503 meter dan bendera merah putih dikibarkan di masing-masing sisi jembatan, maka diperkirakan setiap sekitar 1 meter terpasang sebuah bendera.

Pelaku Penusukan di Sungai Penuh Diringkus dalam Mobil Travel di Sarolangun

BAHAR POS – Tak sampai berganti hari, aparat kepolisian berhasil menangkap F (23), pelaku penusukan di Kota Sungai Penuh. Tersangka diringkus pada Jumat (15/8/2025) malam WIB, saat tengah berada di dalam sebuah mobil travel yang melaju di wilayah Sarolangun.

Kasi Humas Polres Kerinci Iptu D. Sitinjak menuturkan, penangkapan dilakukan setelah Tim Satreskrim Polres Kerinci berkoordinasi dengan Polres Sarolangun. Pihaknya mengirimkan identitas dan foto pelaku, yang kemudian terlacak hendak melarikan diri keluar provinsi.

“Pelaku ditangkap saat berada di dalam mobil travel di wilayah Sarolangun,” kata Sitinjak, Sabtu (16/8/2025).

Sitinjak menambahkan, pelaku berniat kabur ke Palembang, Sumatera Selatan, tujuan dari mobil travel tersebut. Namun aparat kepolisian bergerak cepat dan berhasil mencegat sebelum tersangka meninggalkan wilayah hukum Jambi.

F melakukan penusukan terhadap Ramon Kurniawan (22) dalam sebuah cekcok di tempat kos di Kota Sungai Penuh. Korban yang terluka parah sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong.

Kepada polisi, F mengungkapkan bahwa tindakannya tersebut dilatarbelakangi kesalahpahaman dan kecemburuan. Ia marah setelah melihat tangan kekasihnya, Yuli, terluka dan menduga korbanlah penyebab luka tersebut.

Korban sendiri bertemu Yuli di sebuah tempat karaoke, di mana perempuan itu terluka akibat pecahan botol saat mabuk. Korban sempat menolong dan mengantar Yuli ke Puskesmas, lalu mengantar pulang ke tempat kos.

Di sana, ternyata F sudah menunggu. Tanpa banyak bertanya ia langsung melakukan penusukan menggunakan pisau sebanyak dua kali di dada kiri korban. Dua luka lebar menyebabkan korban kehabisan darah dan tewas.

Kini, pelaku telah diamankan di Mapolres Kerinci untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

“Pelaku kini telah ditahan dan akan disangkakan atas penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia,” terang Sitinjak.

Perwakilan Jambi Masuk Nominasi Pembawa Baki Paskibraka Nasional 2025

BAHAR POS – Nindya Eltsani Fawwaz, perwakilan Jambi dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2025, masuk nominasi pembawa baki dalam upacara 17 Agustus di Istana Negara, Jakarta. Kabar ini mendapat perhatian khusus dari Gubernur Al Haris.

Kepastian masuknya Nindya Eltsani Fawwaz dalam nominasi pembawa baki dikonfirmasi langsung oleh Pemprov Jambi. Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jambi, Amidy, kepada awak media.

“Ya, [Nindya] masuk nominasi,” kata Amidy. “Pengumumannya [nanti] pada 17 Agustus pagi. Kita doakan bersama agar puteri Jambi terpilih sebagaimana harapan kita dari awal.”

Harapan sama disampaikan oleh Gubernur Al Haris. Jika Nindya Eltsani Fawwaz benar terpilih sebagai pembawa baki, maka Jambi akan mendapat sorotan lebih dalam upacara di Istana Negara nanti. Pasalnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dikabarkan bakal mengenakan pakaian adat Jambi.

“Mudah-mudahan bisa terjadi. Jika itu terjadi, anak Jambi bawa baki dan Pak Wapres pakai baju adat Jambi, kita sangat bangga,” tambah Gubernur pula.

Kabar mengenai kemungkinan Nindya Eltsani Fawwaz menjadi pembawa baki tidak berangkat dari harapan kosong. Mengutip Diary Paskibraka Liputan6.com, siswi SMA Negeri 2 Kota Sungai Penuh ini kerap dilatih sebagai pembawa baki.

Misalnya pada latihan 11 Agustus 2025, Nindya Eltsani Fawwaz didapuk sebagai pembawa baki bendera pusaka. Peran ini, masih menurut amatan Diary Paskibraka Liputan6.com, bahkan sudah dilakoni siswi kelahiran Padang tersebut sejak 7 Agustus.

Andai Nindya Eltsani Fawwaz benar terpilih sebagai pembawa baki bendera pusaka pada Upacara 17 Agustus nanti, maka sejarah baru tercatat untuk Jambi. Gadis berusia 16 tahun tersebut bakal menjadi pembawa baki pertama asal Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dalam setidaknya 10 tahun terakhir.

Terpilihnya Nindya sebagai anggota Paskibraka Nasional 2025 saja bahkan sudah menjadi prestasi tersendiri di daerah asalnya. Dialah utusan pertama dari wilayah Kerinci dan khususnya Kota Sungai.

“Ini sejarah baru bagi daerah,” kata Kepala Bidang Kesbangpol Kota Sungai Penuh, Dedi Iryanto, seperti dikutip Liputan6.com. “Sejak berdirinya Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, baru kali ini ada pelajar putri [dari daerah ini] yang lolos sebagai Paskibraka Nasional dan berkesempatan bertugas di Istana Negara.”

“Pencapaian Nindya menjadi bukti bahwa generasi muda Sungai Penuh dan Kerinci mampu bersaing di tingkat nasional, asalkan diiringi tekad kuat, disiplin, dan kerja keras,” tambah Dedi, seraya mengingatkan bahwa dukungan penuh sangat dibutuhkan agar Nindya Eltsani Fawwaz dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Pembawa baki dalam Upacara 17 Agustus di Istana Negara merupakan peran bergengsi bagi anggota putri Paskibraka. Tak hanya membanggakan bagi si siswi, provinsi asalnya pun akan turut merasa terhormat.

Terlebih bagi Jambi yang perwakilannya sangat jarang menjadi pembawa baki. Dalam 10 tahun terakhir, perwakilan Sumatera yang terpilih sebagai pembawa baki selalu berasal dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.

Nindya Eltsani Fawwaz menjadi perwakilan Jambi dalam Paskibraka Nasional 2025 bersama Frans Sokhi Lase dari SMA Negeri 1 Kota Jambi. Keduanya berangkat ke Jakarta pada 13 Juli lalu, dilepas oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman, yang mewakili Gubernur.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Jambi, mewakili Bapak Gubernur, kami secara resmi memberangkatkan dua calon Paskibraka perwakilan Provinsi Jambi, yaitu Ananda Frans dan Nindia dari Kota Jambi serta Kota Sungai Penuh,” kata Sudirman saat pelepasan, seperti diberitakan Antara.

Pembina Pramuka Pelaku Pencabulan 9 Siswi di Batang Hari Divonis 18 Tahun Penjara

BAHAR POS – Pengadilan Negeri Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, menjatuhkan vonis 18 tahun penjara kepada Rudy Kurniawan (43), pembina ekstrakurikuler Pramuka, setelah terbukti secara sah dan meyakinkan mencabuli sembilan siswi SMP.

Vonis dibacakan dalam sidang putusan yang dipimpin oleh hakim ketua Evalina Barbara Meilala, bersama anggota majelis hakim Tri Yuanita dan Dara Puspita, Jumat (15/8/2025).

“Menyatakan terdakwa Rudy Kurniawan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan tipu muslihat […],” demikian hakim saat membacakan vonisnya, “menjatuhkan pidana penjara selama 18 tahun.”

Selain hukuman pokok, Rudy juga dikenakan denda sebesar Rp1 miliar. Apabila tidak dibayar, diganti dengan kurungan badan selama enam bulan.

Mahkamah juga memerintahkan pidana tambahan berupa pengumuman identitas terdakwa sebagai pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Pengumuman tersebut akan dipajang selama sebulan di kantor Kejaksaan Negeri Batang Hari, Pemkab Batang Hari, Kwartir Cabang Pramuka, serta situs resmi Kejari.

Rudi melakukan tindakan pencabulan terhadap sembilan siswi SMP pada 29 November 2024. Perbuatannya mencuat setelah keluarga korban melapor ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Batang Hari AKP Husni Abda menjelaskan, pelaku meraba, mencium, memeluk, bahkan menyentuh area intim korban saat latihan Pramuka di sekolah.

“Korban dipanggil masing-masing ke dalam ruangan untuk menyetorkan hapalan Dasa Darma Pramuka,” jelas Husni.

Di sana, pelaku menyuruh korban memejamkan mata saat menyebutkan Dasa Darma Pramuka. Pada saat itulah pelaku melancarkan aksi cabulnya.

Majelis hakim menerapkan tuduhan sesuai Pasal 82 ayat (1) UU Perlindungan Anak dan alternatif dakwaan tentang kekerasan seksual karena dilakukan oleh pendidik dan terhadap lebih dari satu korban secara berlanjut.

Vonis ini menunjukkan tegasnya penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan seksual anak, terlebih yang menyalahgunakan posisi kepercayaan di lingkungan pendidikan. Upaya penyebaran identitas pelaku juga diberlakukan sebagai wujud keadilan restoratif sekaligus fasilitas pencegahan serupa di masa depan.

Pria di Sungai Penuh Tewas Ditusuk Rekan, Diduga Karena Cemburu

BAHAR POS – Warga Desa Pelayang Raya, Kota Sungai Penuh, Jambi, digemparkan peristiwa penusukan yang menewaskan seorang pemuda, Jumat (15/8/2025) dini hari WIB. Korban bernama Ramon Kurniawan (22), penduduk setempat, diduga ditusuk oleh pria berinisial F, warga Sungai Jernih.

Peristiwa berdarah itu terjadi di sebuah rumah kos bernama Kos Uci, Dusun Sungai Akar. Informasi yang dihimpun menyebutkan, cekcok antara korban dan pelaku pecah sekitar waktu Subuh setelah keduanya pulang dari menonton hiburan malam.

Korban ditemukan bersimbah darah dengan dua luka tusuk di perut bagian kiri. Ia sempat dilarikan ke RS DKT Sungai Penuh, tetapi nyawanya tidak tertolong akibat pendarahan hebat.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dugaan sementara motif penusukan dipicu rasa cemburu dan pengaruh minuman beralkohol.

“Infonya karena cemburu, dan ada pengaruh alkohol, pulang dari nonton hiburan,” ungkapnya.

Aparat kepolisian langsung bergerak ke tempat kejadian perkara. Dua perempuan yang berada di lokasi saat perkelahian berlangsung telah diperiksa sebagai saksi.

Kasi Humas Polres Kerinci, Ipda D. Sitinjak, membenarkan peristiwa tersebut. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan dan petugas masih memburu pelaku F yang melarikan diri usai menusuk korban.

Naik! Harga TBS Sawit Jambi Periode 15-21 Agustus 2025

BAHAR POS – Warga Jambi dapat merayakan 17 Agustus dengan tersenyum lebar. Pasalnya, harga TBS sawit Jambi periode 15-21 Agustus 2025 mengalami kenaikan.

Mengutip informasi dari Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) telah menyepakati harga baru untuk sawit usia 10-20 tahun. Terdapat kenaikan senilai Rp74,81/kg, sehingga harga TBS menjadi Rp3.613,68/kg.

Dalam penetapan ini, TBS sawit dalam rentang usia 10-20 tahun memiliki harga lebih tinggi dari sawit-sawit dalam rentang usia lainnya.

Berikut daftar lengkap harga TBS sawit Provinsi Jambi periode 15-21 Agustus 2025:

  • Sawit usia 3 tahun Rp2.811,75/kg
  • Sawit usia 4 tahun Rp3.011,78/kg
  • Sawit usia 5 tahun Rp3.149,60/kg
  • Sawit usia 6 tahun Rp3.280,63/kg
  • Sawit usia 7 tahun Rp3.363,29/kg
  • Sawit usia 8 tahun Rp3.435,67/kg
  • Sawit usia 9 tahun Rp3.502,77/kg
  • Sawit usia 10-20 tahun Rp3.613,68/kg
  • Sawit usia 21-24 tahun Rp3.506,98/kg
  • Sawit usia 25 tahun ke atas Rp3,349,80/kg

Bersamaan dengan ini, harga minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) ditetapkan pada angka Rp14.367,81/kg. Sedangkan harga minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO) disepakati sebesar Rp12.782,29/kg dengan indeks 94,67%.

Namun musti dicatat jika ini adalah harga penetapan di tingkat Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. Harga yang ditemui petani di lapangan bisa jadi berbeda.